Komunitas dan Media Informasi InfoTembalang
Pendidikan

Prof Kurnianingsih Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Polines, Fokus Kembangkan AI untuk Kesehatan

Diterbitkan pada 24 Sep 2026

← Beranda
Prof Kurnianingsih Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Polines, Fokus Kembangkan AI untuk Kesehatan

Politeknik Negeri Semarang (Polines) kembali mencatatkan tonggak sejarah penting dalam dunia pendidikan tinggi vokasi dengan bertambahnya jumlah profesor di lingkungan institusi tersebut. Prof. Dr. Ir. Kurnianingsih, S.T., M.T. secara resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam sebuah Sidang Senat Terbuka yang diselenggarakan di Gedung Serba Guna Polines pada hari Kamis, 24 September 2026. Momen pengukuhan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi sivitas akademika Polines semata, tetapi juga menjadi bukti nyata kontribusi akademisi vokasi dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

Dalam prosesi pengukuhan yang khidmat tersebut, Prof. Kurnianingsih menyampaikan orasi ilmiah yang sangat menarik dan sarat akan inovasi masa depan. Orasi ilmiah tersebut mengangkat judul “Kecerdasan Buatan Tepu yang Berpusat pada Manusia untuk Kesehatan dan Kemandirian Hayati Bangsa”. Pemilihan topik ini mencerminkan kepedulian yang mendalam terhadap pemanfaatan teknologi modern untuk menjawab berbagai tantangan strategis pembangunan nasional, khususnya di sektor kesehatan dan pengolahan sumber daya hayati.

Fokus Riset: Kecerdasan Buatan (AI) untuk Kesehatan dan Kemandirian Hayati

Dalam pemaparannya, Prof. Kurnianingsih menjelaskan bahwa penerapan teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam riset-riset yang dikembangkannya diarahkan secara khusus untuk mendukung sektor kesehatan serta mendorong kemandirian hayati bangsa. Kedua bidang ini dinilai memiliki tingkat urgensi yang sangat tinggi serta keterkaitan yang erat dengan arah kebijakan pembangunan pemerintah Indonesia saat ini.

“Pada guru besar saya ini, penerapan AI lebih banyak saya terapkan pada bidang kesehatan dan kemandirian hayati. Hal itu memang sangat menjadi perhatian pemerintah Indonesia,” ungkap Prof. Kurnianingsih. Sebagai negara dengan kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang melimpah, Indonesia membutuhkan sistem teknologi cerdas yang mampu mengolah, mengoptimalkan, dan melindungi potensi tersebut secara berkelanjutan.

Selain sektor hayati, pemanfaatan AI juga difokuskan untuk mengatasi persoalan mendasar di bidang pelayanan kesehatan masyarakat. Prof. Kurnianingsih menyoroti tantangan pemerataan layanan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah-wilayah pelosok nusantara yang belum sepenuhnya terjangkau oleh fasilitas medis yang memadai. Kehadiran teknologi cerdas diharapkan mampu menjadi solusi alternatif dalam memperluas akses layanan kesehatan yang cepat dan akurat.

Prinsip Human-Centric AI: Teknologi yang Berpusat pada Manusia

Aspek penting lain yang ditekankan dalam orasi ilmiah Prof. Kurnianingsih adalah pentingnya menjaga agar pengembangan teknologi AI tetap berpusat pada manusia (human-centric). Di tengah arus modernisasi digital yang begitu cepat, sering kali inovasi teknologi hanya berorientasi pada pencapaian tingkat kecanggihan semata tanpa mempertimbangkan dampak sosialnya.

Prof. Kurnianingsih menegaskan bahwa arah pengembangan AI harus selalu mementingkan kemaslahatan masyarakat luas. Teknologi mutakhir yang diciptakan harus mampu memberikan manfaat nyata, meringankan beban sesama, serta mendukung pencapaian kemandirian bangsa secara menyeluruh. Dengan pendekatan yang berpusat pada manusia, inovasi digital tidak akan menggeser nilai-nilai kemanusiaan, melainkan menjadi alat bantu yang memberdayakan kehidupan masyarakat.

Perjalanan Panjang Menuju Gelar Guru Besar di Usia Muda

Mencapai puncak karier akademik sebagai guru besar di usia yang tergolong relatif muda bukanlah sebuah pencapaian yang instan. Prof. Kurnianingsih menceritakan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari konsistensi panjang dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Di antara ketiga pilar tersebut, aktivitas penelitian atau riset menempati posisi khusus yang paling digemarinya.

Bagi beliau, proses menemukan gagasan baru melalui eksperimen, meneliti suatu fenomena, hingga mendiseminasikan hasil riset tersebut kepada masyarakat luas memberikan kepuasan batin tersendiri. “Alhamdulillah, banyak support dari banyak pihak, terutama keluarga saya, institusi dan pemerintah. Guru besar di usia muda sangat membanggakan juga bagi semua pihak,” tuturnya. Dukungan penuh dari keluarga tercinta dan lingkungan institusi menjadi bahan bakar utama dalam merampungkan berbagai tahapan persyaratan akademik yang ketat.

Komitmen Polines Tingkatkan Jumlah Guru Besar dan Mutu SDM

Sementara itu, Direktur Polines, Dr. Garup Lambang Goro, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam atas pengukuhan Prof. Kurnianingsih. Dengan bertambahnya satu guru besar baru ini, total guru besar aktif di lingkungan Politeknik Negeri Semarang kini resmi menjadi tujuh orang. Capaian membanggakan ini dijadikan sebagai momentum sekaligus motivasi besar untuk terus menggenjot kualitas sumber daya manusia (SDM) di institusi pendidikan vokasi tersebut.

“Kami bersyukur sekali, jadi ada satu tambahan guru besar. Kami selalu mendorong seluruh dosen, khususnya yang muda-muda, untuk segera menempuh S3 atau doktor,” ujar Dr. Garup Lambang Goro. Jenjang pendidikan strata tiga (doktor) dipandang sebagai batu loncatan wajib yang harus dilalui oleh para dosen sebelum mereka memenuhi kriteria administratif untuk mengajukan diri sebagai guru besar.

Pihak manajemen Polines berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh kepada para dosen yang sedang menempuh studi lanjut maupun bagi mereka yang telah bergelar doktor agar segera melengkapi persyaratan pengajuan jabatan akademik tertinggi. Kebijakan ini diharapkan mampu mendongkrak reputasi akademik Polines di kancah nasional maupun internasional.

Implementasi AI dalam Kurikulum dan Riset Lintas Jurusan di Polines

Tidak hanya berhenti pada pencapaian individual dosen, pemanfaatan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) juga kini telah diintegrasikan secara luas ke dalam ekosistem akademik di Polines. Dr. Garup menjelaskan bahwa penerapan AI tidak lagi terbatas di Jurusan Teknik Elektro saja, melainkan mulai merambah ke berbagai disiplin ilmu dan jurusan lain yang ada di kampus.

“Ini sudah riset maupun pengabdian masyarakat maupun pengajaran. Itu pun sudah kita terapkan AI,” jelasnya. Langkah strategis ini diambil guna memastikan bahwa lulusan Polines memiliki literasi digital dan keterampilan teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri masa kini. Dengan perpaduan antara keahlian vokasi praktis dan penguasaan teknologi cerdas, Polines siap mencetak tenaga ahli yang adaptif terhadap era transformasi digital.

Kesimpulan: Menyongsong Masa Depan Pendidikan Vokasi Berbasis Teknologi

Pengukuhan Prof. Dr. Ir. Kurnianingsih, S.T., M.T. sebagai Guru Besar Polines menandai babak baru dalam pengembangan riset berbasis kecerdasan buatan di Indonesia. Fokus penelitian pada bidang kesehatan dan kemandirian hayati membuktikan bahwa institusi vokasi mampu menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan bangsa. Melalui sinergi antara peningkatan kualitas SDM pengajar, penguatan riset inovatif, dan penerapan teknologi modern, Polines terus melangkah mantap sebagai institusi pendidikan tinggi vokasi unggulan yang berdaya saing global.