Musim kemarau yang berkepanjangan mulai berdampak serius terhadap sektor pertanian di Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Sejumlah petani mengaku terancam gagal panen setelah wilayah tersebut tidak diguyur hujan selama kurang lebih tiga bulan.
Kondisi lahan pertanian kini terlihat mengering. Retakan tanah tampak menghiasi sejumlah petak sawah, sementara tanaman jagung dan kacang hijau mengalami pertumbuhan yang tidak optimal akibat minimnya pasokan air.
Sawah Mengering, Tanaman Sulit Berkembang
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Rabu (29/7/2026), beberapa petani terlihat memeriksa kondisi lahan mereka yang terdampak kekeringan. Tidak adanya saluran irigasi membuat sebagian besar sawah hanya mengandalkan air hujan sebagai sumber pengairan.
Tanaman jagung yang seharusnya tumbuh tinggi justru hanya mencapai sekitar tiga jengkal. Daunnya tampak jarang dan mulai mengering, sedangkan sebagian tanaman kacang hijau tidak berkembang dengan baik.
Di beberapa titik, tanah sawah bahkan pecah-pecah akibat cuaca panas yang terus berlangsung.
Hasil Panen Turun Drastis
Salah seorang petani, Tusri (64), mengaku kondisi musim kemarau tahun ini sangat memengaruhi hasil pertaniannya.
Ia menjelaskan bahwa sebelumnya sempat menanam padi, namun tanaman tersebut terpaksa dipanen lebih awal karena kekurangan air. Setelah itu, ia mencoba menanam jagung sebagai alternatif.
Namun hasil yang diperoleh jauh dari harapan. Dari lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi, panen jagung hanya menghasilkan sekitar 30 kilogram, padahal dalam kondisi normal hasil panen dapat mencapai sekitar satu kuintal.
Menurutnya, tanaman jagung yang telah berumur sekitar satu setengah bulan terus mengalami gangguan akibat cuaca panas. Tanaman sempat tumbuh, namun kemudian kembali layu dan mati sehingga tidak mampu berkembang secara maksimal.
Petani Berharap Ada Saluran Irigasi
Tusri mengungkapkan bahwa lahan pertanian di wilayahnya sepenuhnya bergantung pada curah hujan karena belum tersedia jaringan irigasi yang memadai.
Kondisi tersebut membuat para petani ragu untuk kembali menanam padi. Mereka khawatir hujan tidak kunjung turun sehingga tanaman kembali mengalami kekeringan.
Ia berharap pemerintah dapat menghadirkan saluran irigasi agar petani memiliki sumber air yang lebih stabil, terutama saat memasuki musim kemarau.
Tanaman Pisang Ikut Terdampak
Tidak hanya tanaman pangan, kebun pisang milik Tusri juga mengalami gangguan.
Ia mengatakan sejumlah buah pisang menunjukkan kerusakan, ditandai dengan bagian dalam buah yang menghitam saat dibelah. Bahkan beberapa pohon mengalami layu sebelum buah berkembang sempurna.
Kondisi tersebut menambah beban petani yang sebelumnya sudah mengalami penurunan hasil panen akibat kekeringan.
Petani Lain Alami Nasib Serupa
Keluhan serupa juga disampaikan Khomsatun (57), petani lainnya di Kelurahan Rowosari.
Ia mengaku telah menanam jagung dan kacang hijau sekitar dua bulan lalu. Namun minimnya pasokan air membuat tanaman tidak tumbuh subur seperti biasanya.
Daun-daun tanaman mulai mengering dan mengerut sehingga peluang untuk memperoleh hasil panen yang baik semakin kecil.
Menurutnya, apabila kondisi kemarau terus berlanjut tanpa adanya pasokan air tambahan, banyak petani di wilayah tersebut berpotensi mengalami gagal panen.
Kekeringan Jadi Tantangan Pertanian di Tembalang
Kemarau yang berlangsung selama beberapa bulan menjadi tantangan besar bagi para petani di Kecamatan Tembalang, khususnya di wilayah yang belum memiliki sistem irigasi permanen.
Selain menurunkan produktivitas pertanian, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kerugian ekonomi bagi petani yang telah mengeluarkan biaya untuk benih, pupuk, dan perawatan tanaman.
Dengan adanya dukungan infrastruktur pengairan yang memadai, para petani berharap produktivitas lahan dapat kembali meningkat dan risiko gagal panen akibat musim kemarau dapat diminimalkan.
Sumber: Curhat Petani Rowosari Semarang Terancam Gagal Panen Imbas Kemarau