Komunitas dan Media Informasi InfoTembalang
Info

Pelatihan Lidah Buaya KKN USM Bantu Ibu-ibu PKK Gedawang Ciptakan Produk Rumahan

Diterbitkan pada 01 Nov 2026

← Beranda
Pelatihan Lidah Buaya KKN USM Bantu Ibu-ibu PKK Gedawang Ciptakan Produk Rumahan

Semarang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik VII Universitas Semarang (USM) belum lama ini menggelar pelatihan lidah buaya bagi warga RW 06, Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Dalam kegiatan ini, para mahasiswa mengajak ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) setempat mengolah tanaman yang akrab dijumpai di sekitar rumah tersebut menjadi beragam produk bernilai guna, mulai dari minuman hingga produk perawatan rambut dan kulit.

Pelatihan ini menjadi salah satu program kerja tim KKN di wilayah tersebut. Para mahasiswa tidak menghadirkan bahan yang sulit dijangkau, tetapi memanfaatkan sesuatu yang sudah tersedia di lingkungan warga. Pendekatan ini membuat materi pelatihan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta. Peserta pun lebih mudah mempraktikkannya kembali di rumah masing-masing setelah pelatihan selesai.

Mengenalkan Potensi Lidah Buaya kepada Warga

Ketua Tim KKN Tematik VII USM RW 06 Gedawang, Wahyu Dwi, menjelaskan bahwa kegiatan yang diikuti ibu-ibu PKK ini bertujuan memperkenalkan potensi lidah buaya kepada masyarakat. Ia berharap tanaman tersebut tidak lagi dipandang sebelah mata, tetapi bisa diolah menjadi produk rumahan yang bermanfaat bagi kesehatan dan kecantikan.

Lidah buaya sebenarnya sudah cukup dikenal luas. Tanaman berdaun tebal dengan gel bening di dalamnya ini sering dijumpai sebagai bahan berbagai produk perawatan maupun minuman yang beredar di pasaran. Namun, belum semua orang tahu cara mengolahnya sendiri dalam skala rumah tangga. Pelatihan dari mahasiswa KKN USM berperan menjembatani pengetahuan tersebut agar warga dapat mempraktikkannya secara langsung.

Keterlibatan ibu-ibu PKK dalam pelatihan ini juga terbilang tepat. PKK dikenal sebagai organisasi yang bergerak dalam pemberdayaan keluarga dan memiliki kedekatan dengan kehidupan rumah tangga sehari-hari. Karena itu, keterampilan yang diajarkan berpeluang lebih cepat menyebar dan dimanfaatkan di lingkungan keluarga masing-masing peserta.

Dari Minuman Segar hingga Pelembap Kulit

Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga dibimbing langsung untuk mengolah lidah buaya menjadi produk siap pakai. Beberapa produk yang diajarkan antara lain minuman segar, masker rambut, dan pelembap kulit atau moisturizer.

Ragam produk ini menunjukkan bahwa satu jenis tanaman dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan yang berbeda. Minuman segar dapat menjadi pilihan sajian bagi keluarga, sedangkan masker rambut dan pelembap kulit dapat digunakan untuk perawatan sehari-hari. Dengan menguasai beberapa jenis olahan sekaligus, peserta memiliki lebih banyak pilihan untuk memanfaatkan lidah buaya sesuai kebutuhan masing-masing.

Metode praktik langsung juga membuat materi pelatihan lebih mudah dipahami. Peserta dapat melihat setiap tahapan pengolahan dan mencobanya sendiri. Cara belajar seperti ini umumnya lebih membekas dibandingkan sekadar mendengarkan materi, sehingga peluang peserta untuk mengulang praktik tersebut di rumah menjadi lebih besar.

Tanaman Pekarangan yang Belum Dimanfaatkan Optimal

Pemilihan lidah buaya sebagai bahan pelatihan bukan tanpa alasan. Menurut Wahyu Dwi, tanaman ini mudah ditemukan di sekitar tempat tinggal warga, tetapi pemanfaatannya belum maksimal. Lidah buaya banyak tumbuh di pekarangan rumah dan taman desa, namun umumnya hanya dijadikan tanaman hias.

Wahyu Dwi menuturkan bahwa timnya ingin memperlihatkan nilai lebih dari bahan yang tampak sederhana ini. Melalui pelatihan tersebut, tim ingin membuktikan bahwa lidah buaya dapat diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi sekaligus berguna untuk perawatan sehari-hari.

Gagasan ini sejalan dengan pentingnya mengenali sumber daya yang ada di sekitar. Banyak potensi lokal yang sebenarnya dapat dikembangkan, tetapi sering terlewat karena dianggap biasa. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat, tanaman yang semula hanya mempercantik halaman dapat berubah menjadi produk yang bermanfaat. Bahkan, produk tersebut berpotensi memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga.

Wujud Kontribusi Akademisi Berbasis Potensi Lokal

Kegiatan ini didampingi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Fitria Maya Lestari, S.T., M.T. Ia menilai program kerja tersebut sebagai bentuk nyata kontribusi akademisi dalam memberdayakan masyarakat dengan bertumpu pada potensi daerah setempat.

Fitria menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian program KKN yang berlangsung selama dua bulan. Ia berharap masyarakat dapat terus mengembangkan bahan-bahan lokal menjadi produk yang mampu bersaing. Selain itu, ia ingin produk tersebut ikut menopang perekonomian keluarga.

KKN tematik pada dasarnya menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu dari bangku kuliah langsung di tengah masyarakat. Program ini memberi pengalaman berharga bagi mahasiswa sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi warga. Pelatihan pengolahan lidah buaya di Gedawang menjadi salah satu contoh bagaimana interaksi antara kampus dan masyarakat dapat menghasilkan sesuatu yang aplikatif.

Pendampingan dosen juga berperan penting agar program yang dijalankan mahasiswa tetap terarah dan relevan dengan kebutuhan warga. Dengan bimbingan tersebut, kegiatan diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Keterampilan yang diajarkan diharapkan benar-benar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Disambut Antusias Ibu-ibu PKK

Ketua PKK RW 06 Gedawang, Wiwik, menyambut baik inisiatif mahasiswa USM tersebut. Menurutnya, pelatihan ini membekali ibu-ibu di wilayahnya dengan keterampilan praktis yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Wiwik mengungkapkan bahwa para peserta sangat antusias mengikuti pelatihan. Salah satu alasannya, proses pembuatan produk ternyata cukup mudah dan bahan yang digunakan aman. “Harapannya, keterampilan ini tidak berhenti di sini saja, tetapi bisa dikembangkan menjadi ide usaha rumahan,” ujarnya.

Antusiasme ini menjadi modal penting bagi keberlanjutan program. Ketika peserta merasa sebuah keterampilan mudah dipelajari dan sesuai dengan kebutuhan mereka, peluang untuk terus mempraktikkannya pun makin terbuka. Kegiatan PKK yang rutin juga dapat menjadi wadah bagi ibu-ibu untuk saling berbagi pengalaman dan mengembangkan keterampilan tersebut bersama-sama.

Membuka Peluang Usaha Rumahan

Harapan agar pelatihan ini berkembang menjadi usaha rumahan menunjukkan bahwa kegiatan tersebut berpotensi memberikan dampak jangka panjang. Produk olahan lidah buaya buatan sendiri tidak hanya bisa digunakan untuk kebutuhan keluarga. Produk tersebut juga berpeluang dikembangkan untuk dipasarkan, tentu dengan memperhatikan kualitas dan keamanannya.

Melalui pelatihan lidah buaya ini, mahasiswa KKN Tematik VII USM berupaya membuktikan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari hal sederhana yang dekat dengan keseharian warga. Tanaman yang selama ini tumbuh di pekarangan rumah ternyata menyimpan banyak peluang. Tanaman ini dapat menambah keterampilan warga, menunjang kesehatan dan penampilan, bahkan membantu perekonomian keluarga.

Ke depan, keterampilan yang telah diperoleh ibu-ibu PKK RW 06 Gedawang diharapkan terus diasah dan dikembangkan. Dengan begitu, manfaat program KKN tidak hanya terasa selama mahasiswa berada di lokasi, tetapi juga berlanjut setelah program berakhir. Keterampilan ini dapat menjadi bekal berharga bagi warga dalam mengelola potensi lokal di lingkungan mereka.