
Edukasi Audit Energi
Kegiatan diawali dengan observasi dan koordinasi bersama kelompok tani, petani lokal, serta pengepul di Desa Kluwih. Observasi dilakukan untuk mengetahui kondisi proses pengeringan yang selama ini dilakukan, meliputi penggunaan kipas atau blower, lama pengoperasian, kondisi tempat pengeringan, serta faktor lingkungan yang memengaruhi efektivitas proses pengeringan. Data tersebut menjadi dasar dalam memberikan edukasi mengenai audit energi sederhana, terutama cara memperkirakan konsumsi listrik dan biaya berdasarkan daya alat serta lama penggunaannya. Petani juga diberikan pemahaman bahwa semakin lama kipas beroperasi, semakin besar energi listrik yang digunakan, sehingga pengoperasiannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kadar air jagung.
Efisiensi pengeringan menjadi semakin penting karena kadar air turut memengaruhi nilai jual jagung. Berdasarkan hasil survei dengan pengepul di Desa Kluwih, jagung dengan kadar air lebih dari 13% dihargai sekitar Rp3.000 per kg, sedangkan jagung dengan kadar air kurang dari 13% dapat dihargai sekitar Rp6.000 per kg. Apabila hasil panen setelah dikurangi berat tongkol menghasilkan sekitar 200 kg biji jagung, maka jagung dengan kadar air lebih dari 13% diperkirakan menghasilkan Rp600.000. Sementara itu, apabila kadar air berhasil diturunkan hingga kurang dari 13%, hasil penjualan dapat mencapai sekitar Rp1.200.000. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa proses pengeringan yang tepat tidak hanya berkaitan dengan efisiensi penggunaan listrik, tetapi juga berpotensi meningkatkan nilai ekonomi hasil panen.
Timbangan Cerdas Pengukur Kadar Air Berbasis IoT
Sebagai pendukung program tersebut, dilaksanakan program kedua berupa pengadaan dan demonstrasi alat timbangan pengukur kadar air biji jagung dengan pendekatan berat berbasis Internet of Things (IoT). Program ini dikembangkan sebagai alternatif sederhana untuk membantu petani memperkirakan kadar air jagung melalui pengukuran berat. Pengembangan alat memanfaatkan hubungan antara massa jagung dan kadar air pada volume tertentu, sehingga hasil pengukuran berat dapat digunakan sebagai pendekatan untuk menentukan kondisi kadar air jagung.
Tahap pengembangan alat diawali dengan observasi lapangan dan pengambilan sampel jagung bersama kelompok tani, Gapoktan, serta pengepul CV Vian. Sampel jagung yang telah dikeringkan maupun yang belum dikeringkan terlebih dahulu diukur kadar airnya menggunakan moisture meter. Sampel kemudian ditempatkan pada wadah dengan volume tetap untuk dilakukan pengukuran massa. Data massa dan kadar air yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan pendekatan regresi untuk mendapatkan hubungan matematis antara berat dan kadar air jagung. Hasil analisis tersebut kemudian digunakan sebagai dasar dalam menentukan nilai berat yang mewakili kondisi kadar air tertentu dan diterapkan pada sistem timbangan cerdas.
Alat yang dikembangkan menggunakan sistem instrumentasi berbasis IoT yang mengintegrasikan sensor berat dan mikrokontroler untuk membaca serta mengolah massa jagung. Berdasarkan hasil pengukuran tersebut, sistem memberikan perkiraan kadar air yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan apakah proses pengeringan masih perlu dilanjutkan atau sudah mencapai kondisi yang diharapkan. "Saya mengklaim bahwa akurasi alat ini cukup tinggi, hanya bertoleransi kurang lebih 1 hingga 1,2%" Ujar Chandra Yesaya sembari menjelaskan kepada kelompok tani. Dengan adanya alat tersebut, petani memiliki alternatif pengukuran yang lebih sederhana dan dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap alat moisture meter dalam pemeriksaan awal.
Demonstrasi dilakukan menggunakan sampel jagung yang telah disiapkan. Petani diajak melakukan penimbangan menggunakan alat yang telah dibuat, kemudian hasil perkiraan kadar air dibandingkan dengan data pengukuran sebelumnya menggunakan moisture meter di CV Vian. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana untuk menjelaskan prinsip kerja alat, komponen yang digunakan, serta proses pembuatannya. Informasi mengenai cara kerja, manfaat, dan pembuatan alat juga disampaikan melalui leaflet sebagai media edukasi yang dapat dipelajari kembali oleh petani.
Dukungan terhadap SDGs
Kedua program tersebut memiliki keterkaitan dalam mendukung proses pascapanen jagung di Desa Kluwih. Sosialisasi audit energi memberikan pengetahuan mengenai penggunaan listrik yang lebih efisien selama proses pengeringan, sedangkan timbangan cerdas memberikan alternatif untuk membantu mengetahui kondisi kadar air jagung. Dengan mengetahui kondisi kadar air, petani dapat menentukan kapan proses pengeringan perlu dilanjutkan atau dihentikan sehingga penggunaan kipas atau blower dapat dilakukan secara lebih terukur dan mengurangi potensi pemborosan energi.
Pelaksanaan kedua program ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) ke-9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui penerapan teknologi sederhana dan terjangkau dalam membantu pengukuran kadar air jagung. Selain itu, kegiatan mendukung SDGs ke-12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui edukasi mengenai efisiensi penggunaan energi dan penerapan teknologi untuk menghindari penggunaan energi pengeringan secara berlebihan.
Melalui kombinasi edukasi audit energi dan penerapan timbangan cerdas berbasis IoT, petani Desa Kluwih diharapkan dapat melakukan proses pengeringan jagung secara lebih terukur dan efisien. Penggunaan energi listrik dapat ditekan, kondisi kadar air hasil panen lebih mudah dipantau, serta kualitas dan potensi nilai jual jagung dapat ditingkatkan. Kedua program ini menjadi salah satu upaya penerapan teknologi dan edukasi sederhana untuk mendukung proses pascapanen yang lebih efisien, ekonomis, dan berkelanjutan di Desa Kluwih.
Peran KKN Desa Undip bagi Masyarakat Kluwih
Program KKN Desa Undip di Desa Kluwih tidak berhenti pada tahap sosialisasi dan demonstrasi alat, tetapi juga diarahkan agar hasil kegiatan dapat terus dimanfaatkan oleh petani setelah masa penugasan tim mahasiswa berakhir. Pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari pengenalan konsep audit energi, praktik langsung penggunaan timbangan cerdas, hingga penyerahan leaflet edukasi sebagai bahan rujukan mandiri bagi kelompok tani dan Gapoktan setempat.
Koordinasi yang terjalin dengan perangkat desa, kelompok tani, serta pengepul CV Vian selama program KKN Desa Undip berlangsung turut memperkuat keberlanjutan hasil kegiatan. Sinergi antara mahasiswa KKN, petani, dan pelaku usaha lokal ini diharapkan dapat menjadi model kolaborasi yang dapat direplikasi pada program pengabdian masyarakat berikutnya, khususnya di desa-desa dengan potensi komoditas jagung yang serupa.
Melalui program KKN-T IDBU 36 ini, mahasiswa Undip berupaya menghadirkan solusi yang aplikatif dan mudah diadopsi oleh masyarakat, sejalan dengan tujuan besar KKN Desa Undip untuk mendorong pemberdayaan masyarakat desa berbasis sains dan teknologi tepat guna. Tim KKN Desa Kluwih yang tergabung dalam KKN-T IDBU 36 melaksanakan program pengabdian pada 28 Juli 2026 bertempat di Desa Kluwih, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang