Batang (29/07/2026) – Dampak pengelolaan sampah terhadap kesehatan masyarakat menjadi salah satu perhatian utama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP) yang sedang melaksanakan pengabdian di Desa Sembojo, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang. Melalui program multidisiplin yang mengangkat tema pengelolaan sampah, mahasiswa KKN berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah sederhana untuk mencegah berbagai penyakit.
Permasalahan sampah masih menjadi tantangan yang dihadapi oleh banyak daerah, termasuk Desa Sembojo. Meningkatnya jumlah sampah rumah tangga, kurangnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah, serta kebiasaan membuang sampah sembarangan dapat menimbulkan berbagai permasalahan, baik dari segi lingkungan maupun kesehatan.
Sebagian masyarakat masih menganggap bahwa sampah hanya menyebabkan lingkungan menjadi kotor dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Padahal, dampak yang ditimbulkan oleh sampah jauh lebih besar daripada itu. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi tempat berkembang biaknya berbagai hewan pembawa penyakit, seperti lalat, nyamuk, dan tikus.
Berangkat dari kondisi tersebut, Tim KKN Universitas Diponegoro melaksanakan program multidisiplin bertajuk “Optimalisasi Pengelolaan Sampah untuk Mewujudkan Desa Bersih dan Sehat”. Program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan insinerator sebagai sarana pengolahan sampah, tetapi juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai hubungan antara sampah dan kesehatan.
Sebagai bagian dari program tersebut, Rahmah Fitria Jamil, mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, memberikan penyuluhan kepada masyarakat, khususnya ibu-ibu pengajian, mengenai dampak pengelolaan sampah terhadap kesehatan masyarakat.
Kegiatan ini diawali dengan pemaparan mengenai pentingnya membangun kebiasaan positif dalam menjaga kebersihan lingkungan. Setelah itu, masyarakat diberikan penjelasan mengenai berbagai dampak yang dapat ditimbulkan apabila sampah tidak dikelola dengan baik.
Salah satu contoh yang dijelaskan dalam kegiatan tersebut adalah keberadaan lalat pada tumpukan sampah, terutama sampah sisa makanan yang membusuk. Lalat yang hinggap pada tumpukan sampah dapat membawa berbagai jenis kuman pada kaki dan tubuhnya. Setelah itu, lalat dapat berpindah ke makanan atau minuman yang tidak tertutup.
Tanpa disadari, kuman yang terbawa oleh lalat dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan yang dikonsumsi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit infeksi, seperti diare. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya serta menutup makanan dengan baik agar terhindar dari kontaminasi.
Selain lalat, sampah berupa botol plastik, kaleng bekas, gelas plastik, serta ban bekas yang menampung air hujan juga dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini dikenal sebagai penyebab utama penyakit demam berdarah dengue (DBD).
Meningkatnya jumlah genangan air di sekitar lingkungan dapat menyebabkan populasi nyamuk bertambah dengan cepat. Akibatnya, risiko penularan penyakit demam berdarah juga akan meningkat. Oleh karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri membersihkan lingkungan dan mengurangi keberadaan sampah yang dapat menampung air.
Tidak hanya nyamuk, tumpukan sampah juga dapat menjadi tempat tinggal bagi tikus. Hewan tersebut dapat membawa bakteri penyebab penyakit leptospirosis melalui air kencingnya. Seseorang yang melakukan aktivitas di lingkungan yang tercemar, terutama ketika terdapat luka pada bagian tubuh, memiliki risiko lebih besar untuk tertular penyakit tersebut.
Leptospirosis umumnya ditandai dengan gejala berupa demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, dan tubuh yang terasa lemah. Dalam kondisi tertentu, penyakit ini juga dapat menyebabkan gangguan pada organ tubuh sehingga memerlukan penanganan medis dengan segera.
Lingkungan yang kotor akibat penumpukan sampah juga dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan lainnya, seperti gatal-gatal, ruam, dan infeksi kulit. Kondisi tersebut umumnya terjadi akibat paparan kuman, bakteri, maupun faktor kebersihan lingkungan yang kurang terjaga.
Sebagai mahasiswa dari bidang ilmu gizi, Rahmah juga menjelaskan hubungan antara kebersihan lingkungan dan kondisi gizi masyarakat, khususnya pada anak-anak. Anak-anak yang sering mengalami diare atau penyakit infeksi biasanya akan mengalami penurunan nafsu makan. Selain itu, kemampuan tubuh untuk menyerap zat gizi dari makanan juga akan terganggu.
Jika kondisi tersebut terjadi secara berulang dalam jangka waktu yang lama, kebutuhan gizi anak tidak dapat terpenuhi secara optimal. Akibatnya, pertumbuhan dan perkembangan anak dapat terhambat sehingga meningkatkan risiko terjadinya stunting.
Penyampaian materi dilakukan dengan menggunakan media presentasi yang berisi penjelasan sederhana, gambar ilustrasi, serta sesi diskusi bersama masyarakat. Metode ini dipilih agar masyarakat dapat lebih mudah memahami materi yang disampaikan dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.
Antusiasme masyarakat terlihat dari berbagai pertanyaan yang diajukan selama kegiatan berlangsung. Masyarakat tidak hanya bertanya mengenai cara menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mengenai cara mencegah penyebaran penyakit yang berkaitan dengan pengelolaan sampah yang kurang baik.
Kegiatan edukasi ini dilaksanakan secara interaktif sehingga masyarakat dapat menyampaikan pengalaman dan permasalahan yang mereka hadapi selama mengelola sampah rumah tangga. Sebagian besar peserta mengaku masih mengalami kesulitan dalam menerapkan kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik. Selain itu, masih ditemukan kebiasaan membuang sampah di tempat yang tidak semestinya karena dianggap lebih praktis dan tidak memerlukan waktu yang lama.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk memahami bahwa pengelolaan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah desa atau petugas kebersihan, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak yang besar bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Program multidisiplin ini juga menjadi bukti bahwa permasalahan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu pendekatan. Pembangunan insinerator menjadi salah satu solusi yang ditawarkan untuk membantu mengurangi penumpukan sampah, sedangkan kegiatan edukasi dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Kedua kegiatan tersebut saling melengkapi sehingga manfaat yang diberikan dapat dirasakan secara lebih optimal oleh masyarakat.
Program pembangunan insinerator yang dilaksanakan oleh Tim KKN UNDIP Desa Sembojo diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam mengurangi penumpukan sampah di lingkungan masyarakat. Meskipun demikian, keberadaan fasilitas tersebut tetap harus didukung oleh kebiasaan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Selain memberikan manfaat bagi kesehatan, pengelolaan sampah yang baik juga dapat menciptakan lingkungan yang lebih nyaman, bersih, dan asri. Lingkungan yang terjaga kebersihannya akan memberikan rasa aman dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.
Keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh tersedianya sarana dan prasarana, tetapi juga oleh partisipasi aktif masyarakat dalam menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat. Langkah-langkah sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan lingkungan, dan tidak membiarkan sampah menumpuk terlalu lama, dapat memberikan manfaat yang besar bagi kesehatan masyarakat.
Harapannya, program yang telah dilaksanakan tidak berhenti setelah kegiatan KKN berakhir. Masyarakat diharapkan dapat terus menerapkan kebiasaan hidup bersih dan sehat, mulai dari membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah berdasarkan jenisnya, menjaga kebersihan lingkungan, hingga mengajak anggota keluarga lainnya untuk melakukan hal yang sama.
Melalui kegiatan edukasi ini, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro berharap masyarakat Desa Sembojo dapat semakin memahami bahwa menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya bertujuan menciptakan lingkungan yang nyaman dan asri, tetapi juga menjadi salah satu upaya penting dalam melindungi kesehatan keluarga dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. Dengan demikian, dampak pengelolaan sampah terhadap kesehatan masyarakat dapat diminimalkan dan lingkungan yang bersih, sehat, serta nyaman dapat terus terjaga.