Komunitas dan Media Informasi InfoTembalang
Pendidikan

Mahasiswa KKN UNDIP Rancang dan Fabrikasi Mesin Pengering Jagung untuk Gapoktan Desa Kluwih

Diterbitkan pada 10 Aug 2026

← Beranda
Mahasiswa KKN UNDIP Rancang dan Fabrikasi Mesin Pengering Jagung untuk Gapoktan Desa Kluwih

Batang, 10 Agustus 2026 — Permasalahan pengeringan jagung pada musim hujan mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IDBU 36 Universitas Diponegoro untuk menghadirkan solusi berbasis teknologi bagi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Kluwih, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang. Melalui program unggulan KKN, mahasiswa tidak hanya memberikan mesin kepada masyarakat, tetapi terlibat dalam rangkaian proses mulai dari identifikasi permasalahan, perancangan, diskusi desain, fabrikasi, pengujian, demonstrasi, hingga penyerahan mesin pengering jagung tipe Flat Bed Dryer kepada Gapoktan.

Permasalahan tersebut berawal dari kondisi pascapanen jagung di Desa Kluwih yang masih mengandalkan proses pengeringan menggunakan sinar matahari. Bagi petani, metode tersebut menjadi kendala terutama ketika memasuki musim hujan. Pada kondisi cuaca cerah, pengeringan jagung dapat membutuhkan waktu sekitar 2–5 hari, sedangkan pada musim hujan prosesnya dapat berlangsung lebih dari 7 hari bahkan mencapai 14 hari. Lamanya proses pengeringan menyebabkan kadar air jagung sulit diturunkan secara optimal dan meningkatkan risiko penurunan kualitas akibat pertumbuhan jamur maupun kerusakan selama penyimpanan. Kondisi tersebut juga berdampak pada nilai jual hasil panen karena jagung dengan kadar air yang masih tinggi cenderung dihargai lebih rendah oleh pembeli.

Permasalahan tersebut telah diidentifikasi sebelum mahasiswa turun melaksanakan KKN pada 1 Juli 2026. Melalui survei dan komunikasi dengan Gapoktan, mahasiswa berusaha memahami kondisi pascapanen yang dihadapi petani sekaligus kebutuhan teknologi yang dapat diterapkan di lapangan. Hasil identifikasi kemudian menjadi dasar dalam menentukan konsep mesin pengering yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Dari permasalahan tersebut, mesin pengering jagung tipe Flat Bed Dryer dipilih sebagai solusi. Mesin ini dirancang agar proses pengeringan dapat dilakukan menggunakan udara panas yang dialirkan dari bagian bawah tumpukan jagung sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca. Selain mempercepat proses pengeringan, penerapan mesin diharapkan dapat membantu petani memperoleh kadar air jagung yang lebih sesuai untuk dipasarkan dan menjaga kualitas hasil panen.

Proses perancangan dilakukan sebelum pelaksanaan KKN, sekitar awal hingga mendekati akhir Juni 2026. Perancangan tidak hanya berfokus pada bentuk mesin, tetapi mempertimbangkan berbagai aspek yang berkaitan dengan kebutuhan petani dan kemampuan fabrikasi. Tahapan tersebut meliputi penyusunan konsep kerja mesin, perencanaan cara kerja sistem pengering, penentuan kapasitas, perancangan konstruksi, pemilihan material, penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB), pembuatan gambar kerja, hingga perencanaan proses fabrikasi.

Penyusunan rancangan teknis tersebut dikembangkan sejak awal berdasarkan hasil identifikasi permasalahan di lapangan. Mukhammad Adib Kurniawan menjadi salah satu mahasiswa yang banyak terlibat dalam proses pengembangan desain, mulai dari konsep hingga gambar teknis yang nantinya digunakan sebagai acuan pembuatan mesin. Rancangan kemudian diarahkan agar tetap memenuhi kebutuhan teknis sekaligus mempertimbangkan biaya dan kemudahan penggunaan serta perawatan oleh Gapoktan.

Konsep Flat Bed Dryer yang digunakan memiliki konstruksi relatif sederhana dengan ruang pengering berbentuk bak. Udara panas dialirkan dari bagian bawah melalui plenum menuju tumpukan jagung. Berdasarkan rancangan, mesin memiliki kapasitas sekitar 100–150 kg per proses, dimensi bed 1.200 × 1.200 mm, tinggi plenum 600 mm, sumber panas menggunakan burner LPG, dan sistem distribusi udara menggunakan axial blower 370 W.

Pemaparan rancangan mesin pengering jagung kepada Gapoktan Desa Kluwih untuk memperoleh masukan mengenai kesesuaian desain dengan kebutuhan di lapangan.

Setelah rancangan selesai disusun, desain tersebut tidak langsung masuk ke tahap fabrikasi. Pada 11 Juli 2026, mahasiswa terlebih dahulu melakukan pemaparan dan diskusi bersama Gapoktan Desa Kluwih. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan rancangan mesin yang akan dibuat, menjelaskan prinsip kerja dan spesifikasi alat, serta memperoleh masukan dari calon pengguna.

Diskusi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam proses pengembangan mesin karena rancangan yang dibuat harus dapat digunakan dalam kondisi nyata di lapangan. Masukan dari Gapoktan mengenai kebutuhan kapasitas, kemudahan pengoperasian, serta kesesuaian desain kemudian menjadi bahan pertimbangan dalam penyempurnaan rancangan sebelum memasuki tahap fabrikasi.

Setelah desain disepakati, proses dilanjutkan dengan fabrikasi mesin. Pengerjaan dilakukan dengan melibatkan vendor, mulai dari persiapan material hingga proses manufaktur komponen. Namun, proses pembuatan mesin ini memiliki hal yang cukup menarik. Fabrikasi tidak sepenuhnya diserahkan kepada vendor, melainkan mahasiswa KKN juga ikut turun langsung dalam proses pengerjaan.

Sebanyak empat mahasiswa dari tim KKN, yaitu Mukhammad Adib Kurniawan, Mohammad Thirafi Akmal, Chandra Yesaya, dan Fauzaan Rafiif Hidayatulloh, turut terlibat dalam proses perakitan mesin. Keterlibatan tersebut membuat proses fabrikasi menjadi bagian dari pengalaman teknis mahasiswa selama menjalankan program. Mahasiswa tidak hanya mengembangkan rancangan di atas gambar, tetapi ikut melihat dan mengerjakan bagaimana rancangan tersebut diwujudkan menjadi sebuah mesin yang dapat digunakan.

Proses fabrikasi meliputi pembuatan rangka sebagai struktur utama, pemasangan ruang pengering, plenum, sistem pemanas, blower, serta saluran distribusi udara panas. Setiap bagian dirakit secara bertahap dengan memperhatikan kesesuaian dimensi, kekuatan konstruksi, dan integrasi antar-komponen. Setelah seluruh komponen terpasang, dilakukan proses finishing berupa perapihan hasil pengerjaan, pengecatan rangka, serta pemeriksaan sambungan dan komponen.

Mahasiswa KKN bersama vendor terlibat langsung dalam proses perakitan dan penyelesaian mesin pengering jagung.

Setelah mesin selesai difabrikasi, dilakukan pengujian pada 22 Juli 2026 untuk memastikan mesin dapat beroperasi sekaligus mengetahui parameter pengeringan yang sesuai. Pengujian dilakukan menggunakan 115 Kg jagung. Selama proses pengeringan, sampel diambil secara berkala untuk mengetahui perubahan kadar air jagung terhadap waktu.

Pada pengujian awal, pengambilan sampel dilakukan setiap 15 menit. Namun, hasil pengamatan menunjukkan bahwa kondisi jagung belum cukup merata ketika dilakukan pembalikan. Oleh karena itu, interval pengambilan sampel kemudian disesuaikan menjadi setiap 30 menit. Dari pengujian tersebut diperoleh bahwa pembalikan jagung secara efektif dilakukan setiap 30 menit untuk membantu menghasilkan proses pengeringan yang lebih merata.

Hasil pengujian menunjukkan penurunan kadar air yang cukup signifikan. Kadar air awal jagung sebesar 28% turun menjadi 26% pada menit ke-15, kemudian terus menurun hingga mencapai 17,7% pada menit ke-165. Pada menit ke-195 atau sekitar 3 jam 15 menit, kadar air telah mencapai 16,6%, sehingga berada di bawah target maksimum 17%. Pengeringan kemudian dilanjutkan hingga kadar air akhir mencapai 14,2% pada menit ke-285.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa mesin mampu mempercepat proses pengeringan dibandingkan metode konvensional yang bergantung pada sinar matahari. Dengan adanya mesin pengering, proses pengeringan dapat dilakukan dengan kondisi yang lebih terkendali dan tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh perubahan cuaca.

Setelah pengujian selesai dan parameter pengoperasian diperoleh, mahasiswa melanjutkan kegiatan dengan demonstrasi penggunaan mesin pada 24 Juli 2026 di halaman Balai Desa Kluwih. Kegiatan tersebut melibatkan anggota Gapoktan sebagai calon pengguna teknologi. Demonstrasi dilakukan agar mesin yang diberikan dapat digunakan secara mandiri dan berkelanjutan setelah program KKN selesai.

Dalam demonstrasi tersebut, mahasiswa memperkenalkan komponen-komponen mesin dan menjelaskan prinsip kerja Flat Bed Dryer. Peserta juga diberikan penjelasan mengenai tahapan pengoperasian, mulai dari persiapan mesin, pengaturan sistem pemanas dan blower, proses pengeringan, pembalikan jagung, hingga prosedur penghentian mesin. Selain itu, disampaikan pula perawatan dasar agar mesin dapat tetap bekerja dengan baik dalam penggunaan jangka panjang.

Demonstrasi pengoperasian mesin pengering jagung kepada Gapoktan Desa Kluwih di halaman Balai Desa Kluwih.

Rangkaian program kemudian ditutup dengan penyerahan mesin pengering jagung kepada Gapoktan Desa Kluwih pada kegiatan pelepasan KKN tanggal 7 Agustus 2026. Penyerahan dilakukan oleh dosen pembimbing, Muhammad Luthfie Fadhilah, S.P., M.Si., dan Restie Novitaningrum, M.P., sebagai bentuk alih teknologi kepada masyarakat agar mesin dapat terus dimanfaatkan setelah berakhirnya pelaksanaan KKN.

Melalui program unggulan ini, mahasiswa KKN berupaya menghadirkan solusi yang berangkat langsung dari kebutuhan masyarakat. Permasalahan yang pada awalnya berupa kesulitan mengeringkan jagung saat musim hujan diterjemahkan menjadi kebutuhan teknologi, kemudian dikembangkan melalui proses perancangan, diskusi bersama calon pengguna, fabrikasi, pengujian, hingga demonstrasi dan penyerahan alat.

Penerapan mesin Flat Bed Dryer di Desa Kluwih diharapkan dapat memberikan alternatif bagi petani dalam menghadapi kendala pengeringan, terutama pada musim hujan. Dengan waktu pengeringan yang lebih singkat dan proses yang tidak sepenuhnya bergantung pada cuaca, kualitas hasil panen diharapkan dapat lebih terjaga sehingga peluang memperoleh nilai jual yang lebih baik juga semakin terbuka.

Program ini juga menunjukkan bahwa penerapan ilmu teknik dalam kegiatan KKN dapat dilakukan melalui proses yang utuh. Mahasiswa tidak hanya berperan dalam memberikan gagasan, tetapi turut menerjemahkan permasalahan di lapangan menjadi rancangan teknis, ikut terlibat dalam proses fabrikasi, menguji kinerja alat, dan memastikan calon pengguna memahami cara pengoperasiannya. Dengan demikian, mesin yang diserahkan kepada Gapoktan bukan sekadar sebuah produk akhir, melainkan hasil dari rangkaian proses pemecahan masalah yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat.