Batang, 24 Juli
2026 — Tumpukan tongkol jagung yang selama ini kerap dianggap sebagai
limbah dan belum dimanfaatkan secara optimal mulai mendapat perhatian di Desa
Kluwih, Kabupaten Batang. Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa
Universitas Diponegoro (UNDIP) mengajak masyarakat, khususnya para petani,
untuk melihat kembali potensi limbah hasil panen tersebut melalui
pemanfaatannya sebagai bahan baku biochar.
Upaya tersebut
diwujudkan melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan pembuatan biochar tongkol jagung yang dilaksanakan pada 24 Juli 2026 di Balai Desa Kluwih.
Kegiatan ini mengundang para petani sebagai sasaran utama untuk memperoleh
pengetahuan mengenai pengolahan limbah tongkol jagung serta pemanfaatannya
dalam mendukung kegiatan pertanian.
Program
tersebut merupakan bagian dari kegiatan KKN yang berupaya mengangkat potensi
dan permasalahan yang terdapat di lingkungan masyarakat. Salah satu
permasalahan yang ditemukan adalah keberadaan tongkol jagung sebagai limbah
pascapanen yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Setelah jagung dipipil,
tongkol yang tersisa sering kali hanya ditumpuk dan belum memiliki nilai guna
yang optimal bagi masyarakat.
Padahal,
tongkol jagung merupakan salah satu biomassa yang berpotensi untuk dimanfaatkan
kembali. Dengan pengolahan yang tepat, limbah tersebut dapat diubah menjadi
biochar, yaitu material kaya karbon yang dihasilkan melalui proses pemanasan
bahan organik dalam kondisi oksigen terbatas.
Jagung menjadi
salah satu komoditas pertanian yang memiliki peran penting bagi masyarakat Desa
Kluwih. Aktivitas budidaya dan panen jagung menghasilkan berbagai produk,
termasuk limbah berupa tongkol jagung. Dalam kegiatan pascapanen, jagung yang
telah dipanen akan dipipil untuk memisahkan biji dari tongkolnya. Proses
tersebut kemudian menghasilkan tongkol dalam jumlah yang cukup banyak.
Keberadaan
limbah tersebut menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan. Alih-alih
hanya ditumpuk atau dibakar, tongkol jagung dapat diolah menjadi produk yang
memiliki manfaat lebih lanjut. Gagasan inilah yang kemudian menjadi dasar
mahasiswa KKN untuk mengenalkan biochar kepada masyarakat Desa Kluwih.
Dalam kegiatan
penyuluhan, mahasiswa menjelaskan kepada para petani mengenai apa itu biochar,
bahan yang dapat digunakan untuk membuatnya, proses pembuatannya, serta potensi
pemanfaatannya dalam bidang pertanian.
Biochar tongkol jagung pada
dasarnya merupakan hasil pengolahan tongkol jagung melalui proses pirolisis atau
pemanasan dalam kondisi oksigen terbatas. Proses tersebut menyebabkan bahan
organik mengalami perubahan menjadi material yang kaya karbon. Karakteristik
tersebut membuat biochar dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan pembenah
tanah.
Penggunaan
biochar dalam tanah dapat membantu mempertahankan unsur hara dan air sehingga
dapat menciptakan kondisi yang lebih mendukung bagi pertumbuhan tanaman.
Pemanfaatan biochar juga dapat menjadi salah satu alternatif dalam pengelolaan
limbah biomassa secara lebih berkelanjutan.
Bagi masyarakat
petani, pengenalan terhadap teknologi sederhana semacam ini menjadi penting
karena bahan bakunya tersedia di lingkungan sekitar. Tongkol jagung yang
sebelumnya dianggap tidak memiliki manfaat lebih lanjut dapat dimanfaatkan
kembali dengan proses pengolahan yang relatif sederhana.
Kegiatan yang
berlangsung di Balai Desa Kluwih tersebut tidak hanya memberikan informasi
secara teoritis. Para petani juga diperkenalkan dengan tahapan pembuatan
biochar dari tongkol jagung agar dapat memahami proses pengolahannya secara
lebih menyeluruh.
Tahapan
pembuatan diawali dengan persiapan tongkol jagung sebagai bahan baku. Tongkol
yang akan digunakan perlu dipersiapkan dan dikeringkan terlebih dahulu untuk
mengurangi kadar air. Pengeringan menjadi salah satu tahap penting karena
kondisi bahan akan memengaruhi proses pengolahan selanjutnya.
Setelah bahan
siap, tongkol jagung memasuki tahap pirolisis. Pada tahap ini, tongkol
dipanaskan dalam kondisi oksigen yang terbatas sehingga tidak terbakar secara
sempurna seperti pembakaran terbuka. Proses tersebut menghasilkan material
berwarna hitam dengan kandungan karbon yang tinggi yang kemudian dikenal
sebagai biochar.
Mahasiswa KKN
juga memberikan pemahaman bahwa proses pembuatan biochar perlu dilakukan dengan
memperhatikan kondisi pembakaran agar bahan tidak berubah menjadi abu. Dengan
pengolahan yang tepat, material yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sesuai
dengan kebutuhan.
Pengenalan
proses tersebut diharapkan dapat memberikan keterampilan praktis kepada petani.
Masyarakat tidak hanya mengetahui istilah biochar, tetapi juga memahami bahwa
bahan baku untuk membuatnya sebenarnya tersedia dari aktivitas pertanian
sehari-hari.
Kegiatan
pelatihan juga menjadi ruang interaksi antara mahasiswa dan masyarakat. Para
petani dapat mengetahui lebih jauh mengenai manfaat biochar sekaligus melihat
kemungkinan penerapannya dalam kegiatan pertanian di Desa Kluwih.
Salah satu
nilai penting dari program ini adalah upaya mengubah cara pandang masyarakat
terhadap limbah pertanian. Limbah tidak selalu harus berakhir sebagai bahan
yang dibuang atau dibakar tanpa pemanfaatan lebih lanjut. Dengan adanya
pengolahan, limbah dapat dikembalikan ke dalam suatu siklus pemanfaatan yang
lebih bernilai.
Tongkol jagung
yang telah diolah menjadi biochar dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah.
Ketika diaplikasikan pada lahan, biochar memiliki karakteristik yang
memungkinkan material tersebut membantu mempertahankan unsur hara dan air di
sekitar perakaran tanaman.
Pemanfaatan
tersebut menjadi relevan bagi masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian.
Kondisi tanah merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan
budidaya tanaman. Oleh karena itu, pengelolaan tanah secara berkelanjutan
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya mempertahankan produktivitas
pertanian.
Selain manfaat
bagi tanah, pemanfaatan tongkol jagung menjadi biochar juga memiliki nilai dari
sisi pengelolaan limbah. Biomassa yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat
diolah menjadi material yang dapat digunakan kembali. Dengan demikian, program
ini mempertemukan dua kebutuhan sekaligus, yaitu pengurangan limbah pascapanen
dan pemanfaatan sumber daya lokal untuk mendukung pertanian.
Program
penyuluhan dan pelatihan biochar tersebut juga memiliki keterkaitan dengan Sustainable
Development Goals (SDGs) 2 atau Tanpa Kelaparan (Zero Hunger).
SDGs 2 tidak
hanya berbicara mengenai pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga mencakup upaya
menciptakan sistem pertanian yang produktif dan berkelanjutan. Pertanian yang
berkelanjutan membutuhkan pengelolaan sumber daya secara bijaksana, termasuk
menjaga kualitas tanah dan memanfaatkan hasil samping pertanian.
Dalam konteks
Desa Kluwih, pemanfaatan tongkol jagung menjadi biochar dapat menjadi salah
satu langkah kecil untuk mendukung tujuan tersebut. Limbah yang berasal dari
aktivitas pertanian dikembalikan dalam bentuk yang berpotensi memberikan
manfaat bagi lahan pertanian.
Penggunaan
biochar sebagai pembenah tanah diharapkan dapat membantu menciptakan kondisi
tanah yang lebih baik sehingga mendukung pertumbuhan tanaman. Jika dikembangkan
secara berkelanjutan dan disesuaikan dengan kondisi lahan serta kebutuhan
masyarakat, pemanfaatan biochar dapat menjadi salah satu bagian dari
pengelolaan pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Program ini
juga menunjukkan bahwa upaya mendukung ketahanan pangan dapat dilakukan melalui
pendekatan yang sederhana dan berbasis potensi lokal. Masyarakat tidak selalu
membutuhkan teknologi yang kompleks untuk mulai melakukan perubahan.
Pemanfaatan bahan yang tersedia di sekitar dapat menjadi titik awal untuk
membangun praktik pertanian yang lebih berkelanjutan.
Pelaksanaan
program KKN tidak hanya diarahkan untuk memberikan solusi dalam jangka pendek,
tetapi juga diharapkan dapat meninggalkan pengetahuan yang dapat terus
dimanfaatkan oleh masyarakat setelah kegiatan KKN selesai.
Melalui
penyuluhan dan pelatihan, mahasiswa berupaya memberikan pemahaman yang dapat
dikembangkan secara mandiri oleh petani. Dengan mengetahui proses pembuatan dan
manfaat biochar, masyarakat memiliki peluang untuk mengolah tongkol jagung yang
dihasilkan dari kegiatan pertanian mereka sendiri.
Pendekatan
berbasis sumber daya lokal juga dapat memberikan keuntungan tersendiri. Bahan
baku berupa tongkol jagung tersedia dari aktivitas pertanian masyarakat
sehingga tidak perlu mencari bahan dari luar wilayah. Hal tersebut membuka
peluang untuk mengembangkan pemanfaatan limbah secara lebih mandiri.
Lebih jauh,
program ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa keberlanjutan
pertanian tidak hanya ditentukan oleh proses budidaya, tetapi juga oleh
bagaimana hasil samping pertanian dikelola. Pengelolaan limbah pascapanen
merupakan bagian penting dari rangkaian kegiatan pertanian yang perlu mendapat
perhatian.
Kegiatan
penyuluhan dan pelatihan pembuatan biochar dari tongkol jagung di Desa Kluwih
menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN UNDIP dalam menghubungkan
pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui program
tersebut, mahasiswa tidak hanya mengenalkan sebuah produk, tetapi juga mengajak
masyarakat untuk melihat potensi yang terdapat di lingkungan mereka sendiri.
Tongkol jagung yang sebelumnya dipandang sebagai limbah dapat memiliki fungsi
baru ketika diolah dengan metode yang tepat.
Bagi Desa
Kluwih, pemanfaatan biochar dapat menjadi salah satu alternatif yang
dikembangkan dalam pengelolaan limbah pertanian dan pemeliharaan kualitas
lahan. Sementara bagi mahasiswa, kegiatan tersebut menjadi pengalaman untuk
menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan dalam menghadapi permasalahan
nyata di masyarakat.
Pada akhirnya,
upaya mewujudkan pertanian berkelanjutan tidak harus dimulai dari langkah yang
besar. Pemanfaatan satu jenis limbah, pengenalan satu teknologi sederhana,
serta peningkatan pengetahuan masyarakat dapat menjadi bagian dari perubahan
yang lebih luas.
Melalui
pengolahan tongkol jagung menjadi biochar, mahasiswa KKN UNDIP bersama
masyarakat Desa Kluwih berupaya membangun pemanfaatan sumber daya pertanian
yang lebih bijak. Dari limbah pascapanen, lahir peluang untuk menjaga kualitas
tanah, mendukung kegiatan pertanian, sekaligus berkontribusi pada pencapaian SDGs
2: Tanpa Kelaparan (Zero Hunger) melalui pertanian yang lebih berkelanjutan.