Komunitas dan Media Informasi InfoTembalang
Pendidikan

Ubah Limbah Dapur Jadi POC: Mahasiswa KKN-T IDBU 36 Undip Ajak KWT Mawar Desa Kluwih Wujudkan SDGs 12

Diterbitkan pada 09 Aug 2026

← Beranda
Ubah Limbah Dapur Jadi POC: Mahasiswa KKN-T IDBU 36 Undip Ajak KWT Mawar Desa Kluwih Wujudkan SDGs 12

BATANG, 18 Juli 2026 – Dalam upaya mendukung ketercapaian target SDGs 12, mahasiswa KKN-T IDBU 36 Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar kegiatan pendampingan & pelatihan pembuatan POC limbah rumah tangga. Kegiatan yang berfokus pada inovasi pengelolaan sampah dapur ini ditujukan kepada anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar Desa Kluwih, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang.

Penggunaan Pupuk Organik Cair (POC) dari limbah rumah tangga dapat membantu mendukung pertumbuhan dan kesehatan tanaman karena mengandung unsur hara serta senyawa alami yang terbentuk selama proses fermentasi. Kandungan nitrogen dan hormon auksin di dalamnya berperan dalam merangsang pembentukan tunas dan daun baru sehingga dapat mendukung pertumbuhan vegetatif tanaman, terutama pada fase awal pertumbuhan. Selain itu, mikroorganisme hasil fermentasi membantu menguraikan bahan organik dan unsur hara seperti fosfor (P) dan kalium (K) yang terdapat di dalam tanah sehingga menjadi lebih mudah tersedia bagi tanaman. Aktivitas mikroorganisme di sekitar perakaran juga dapat membantu menjaga kondisi tanah dan mendukung keseimbangan mikroba yang berperan dalam proses penguraian bahan organik. Dengan kondisi tanah yang lebih baik, akar dapat berkembang dan menyerap air serta unsur hara dengan lebih optimal. POC juga mengandung asam organik dan senyawa metabolit sekunder yang terbentuk selama proses fermentasi. Senyawa tersebut berpotensi membantu meningkatkan daya tahan alami tanaman terhadap gangguan penyakit dan patogen yang berasal dari tanah. Oleh karena itu, pemanfaatan POC tidak hanya sebagai sumber nutrisi tambahan, tetapi juga sebagai upaya untuk mendukung pertumbuhan tanaman, kondisi tanah, dan kesehatan tanaman.

Urgensi Pengolahan Sampah Dapur

Permasalahan sampah organik dari sisa dapur seperti potongan sayur, kulit buah, hingga air cucian beras sering kali hanya berakhir menumpuk di tempat pembuangan sampah akhir dan memicu emisi gas rumah kaca. Padahal, jika diolah dengan metode fermentasi yang tepat, limbah tersebut dapat diubah menjadi Pupuk Organik Cair (POC) yang sangat kaya akan nutrisi, zat pengatur tumbuh (ZPT), serta mikroorganisme bermanfaat bagi tanaman sekaligus menjadi pendorong terwujudnya indikator SDGs 12 di tingkat desa.

Desa Kluwih memiliki potensi pertanian dan perkebunan pekarangan yang produktif. Sebagian besar anggota KWT Mawar memanfaatkan lahan di sekitar rumah untuk menanam sayuran dan tanaman obat keluarga. Namun, penggunaan pupuk kimia sintetis secara terus-menerus berisiko menurunkan kualitas kesehatan tanah, memicu degradasi populasi mikroflora alami, serta menyebabkan pemadatan struktur tanah dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penggunaan pupuk organik cair (POC) dapat menjadi salah satu alternatif untuk menambah bahan organik dan mendukung pemeliharaan kualitas tanah serta pertumbuhan tanaman.

Di sisi lain, sisa sayuran dan kulit buah dari aktivitas rumah tangga yang dihasilkan setiap hari masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik melalui proses fermentasi. Tanpa penanganan yang terstruktur, limbah dapur berisiko mencemari lingkungan pemukiman. Oleh karena itu, hadirnya inovasi pembuatan POC limbah rumah tangga menjadi aksi nyata dalam mendukung target SDGs 12 Desa, khususnya dalam memotong rantai sampah dapur, menekan akumulasi limbah ke TPA, serta mempromosikan pola konsumsi dan produksi pertanian yang ramah lingkungan.

Pelatihan Pembuatan POC Berbasis Fermentasi Anaerob

Gambar Artikel

KWT Mawar Desa Kluwih bersama mahasiswa KKN-T IDBU 36 UNDIP mempraktikkan proses pembuatan POC

Sesi pelatihan POC limbah rumah tangga yang berlangsung pada Sabtu (18/07/2026) ini dikemas secara interaktif. Ibu-ibu KWT Mawar Desa Kluwih tidak hanya mendengarkan materi teori mengenai pemanfaatan limbah & kontribusi program terhadap pencapaian target SDGs 12, tetapi juga diajak untuk melakukan praktek secara langsung dari awal hingga penyiapan sistem fermentasi.

Dalam sesi praktek, anggota diperkenalkan pada cara pembuatan POC dengan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan di rumah serta wadah bekas yang masih layak digunakan. Galon bekas dimanfaatkan sebagai wadah fermentasi sehingga tidak memerlukan wadah khusus. Limbah organik berupa sisa sayuran dan kulit buah terlebih dahulu dicincang agar ukurannya lebih kecil dan lebih mudah terurai selama proses fermentasi. Limbah organik berfungsi sebagai bahan utama dan sumber unsur hara. Bahan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam galon dengan komposisi yang seimbang, dilanjutkan dengan penambahan EM4 Pertanian sebagai bioaktivator untuk membantu proses penguraian bahan organik dan molase atau larutan gula sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme. Air cucian beras juga ditambahkan sebagai sumber nutrisi tambahan dan media fermentasi

Mahasiswa juga menekankan pentingnya menjaga kondisi anaerob (bebas oksigen) selama proses fermentasi berlangsung. Wadah tidak dibiarkan terbuka karena proses fermentasi dapat menghasilkan gas, sehingga diperkenalkan penggunaan airlock sederhana menggunakan selang yang dihubungkan ke botol berisi air. Sistem ini memungkinkan gas hasil fermentasi keluar melalui air tanpa perlu membuka tutup wadah secara berkala, sekaligus membantu membatasi masuknya udara dari luar ke dalam wadah. Dengan penerapan sistem tersebut, proses fermentasi dapat berlangsung dalam kondisi yang lebih sesuai dan risiko kontaminasi dari lingkungan dapat diminimalkan.

Gambar Artikel

Hasil praktek pembuatan POC dari limbah rumah tangga dilengkapi sistem airlock

Setelah melalui tahap perakitan dan pengolahan bahan, dihasilkan galon komposter POC yang siap digunakan sebagai wadah fermentasi. Wadah tersebut kemudian dibiarkan selama kurang lebih 3–4 minggu agar proses penguraian bahan organik berlangsung dan menghasilkan cairan POC. Selama proses fermentasi, kondisi wadah dan sistem airlock tetap dijaga agar proses berlangsung dengan baik.

Setelah masa fermentasi selesai, cairan POC dipisahkan dari sisa bahan organik dan diencerkan terlebih dahulu dengan air sebelum diaplikasikan. POC dapat digunakan dengan cara menyiramkannya secara langsung pada tanah di sekitar pangkal tanaman atau area perakaran, sehingga larutan dapat meresap ke media tanam tanpa mengenai tanaman dalam kondisi terlalu pekat. Aplikasi dilakukan secara berkala dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan tanaman.

Semangat Kolaborasi demi Pertanian Desa yang Berkelanjutan

Gambar Artikel

Pembagian leaflet petunjuk teknis pembuatan dan aplikasi POC kepada anggota KWT Mawar Desa Kluwih.

Ibu-ibu KWT Mawar terlihat sangat antusias selama kegiatan berlangsung. Anggota aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan teknis seputar takaran bahan, ciri-ciri keberhasilan fermentasi, hingga tata cara pengenceran cairan POC saat hendak disiramkan ke tanaman pekarangan. Penggunaan POC diharapkan dapat membantu menyediakan unsur hara organik bagi tanaman sekaligus mendukung pemanfaatan limbah rumah tangga agar tidak langsung menjadi sampah. Kandungan bahan organik hasil fermentasi juga berpotensi membantu memperbaiki kondisi tanah dan mendukung aktivitas mikroorganisme yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Melalui pemanfaatan tersebut, limbah rumah tangga dapat diolah menjadi produk yang lebih bernilai sekaligus mendukung penerapan pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Anggota KWT Mawar Desa Kluwih menyampaikan apresiasinya atas kepedulian dan ilmu praktis yang dibagikan oleh mahasiswa KKN-T IDBU 36 UNDIP. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya berhenti di tingkat pelatihan saja, melainkan menjadi pemicu kebiasaan baru di tingkat rumah tangga warga Desa Kluwih dalam mengelola sampah organik secara mandiri demi terciptanya desa ramah lingkungan.