Komunitas dan Media Informasi InfoTembalang
Pendidikan

Dosen Polines Bantu UMKM Batik Ecoprint Semarang Tata Keuangan dengan Anggaran dan Dashboard Digital

Diterbitkan pada 02 Nov 2026

← Beranda
Dosen Polines Bantu UMKM Batik Ecoprint Semarang Tata Keuangan dengan Anggaran dan Dashboard Digital

Semarang – Tim dosen Program Studi Akuntansi Manajerial Politeknik Negeri Semarang (Polines) memberikan pendampingan kepada pelaku UMKM Batik Ecoprint Semarang yang tergabung dalam Klaster Batik Kota Semarang. Pendampingan ini bertujuan membantu para pengrajin menata keuangan usaha mereka secara lebih tertib dan terukur.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut digelar pada 4 Agustus 2026 di Workshop Kampung Batik Kota Semarang. Sebanyak 10 pelaku UMKM batik ecoprint mengikuti kegiatan ini. Selama pendampingan, mereka mendapatkan bekal tentang penyusunan anggaran, literasi keuangan, dan pemanfaatan alat pencatatan keuangan berbasis digital.

Peluang Pasar Batik Ecoprint yang Terus Tumbuh

Batik ecoprint merupakan batik yang dibuat dengan memanfaatkan pewarna alami dari daun dan bunga. Motif yang dihasilkan berasal dari bentuk dan warna bahan alam tersebut, sehingga setiap kain memiliki karakter yang khas.

Produk ini makin diminati seiring meningkatnya tren produk ramah lingkungan. Konsumen kini semakin memperhatikan asal-usul dan proses pembuatan barang yang mereka beli. Batik ecoprint pun memiliki daya tarik tersendiri karena menggabungkan nilai budaya, keindahan motif, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Bagi para pengrajin di Semarang, tren ini merupakan peluang besar untuk mengembangkan usaha. Namun, peluang pasar saja tidak cukup. Usaha perlu dikelola dengan baik, terutama dari sisi keuangan, agar dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Kendala Pengelolaan Keuangan Pengrajin

Di balik prospek yang menjanjikan, pengelolaan keuangan para pengrajin batik ecoprint masih tergolong sederhana. Pencatatan keuangan dilakukan secara manual. Uang pribadi dan uang usaha juga belum dipisahkan, dan belum ada perencanaan anggaran yang jelas.

Kondisi ini membawa sejumlah dampak. Pelaku usaha kesulitan mengetahui laba yang sebenarnya mereka peroleh. Keputusan produksi pun sering diambil berdasarkan perkiraan, bukan berdasarkan data yang akurat.

Persoalan seperti ini cukup umum dialami usaha kecil. Ketika keuangan pribadi dan usaha bercampur, pemilik usaha sulit membedakan mana keuntungan usaha dan mana dana untuk kebutuhan rumah tangga. Tanpa anggaran, pembelian bahan baku dan rencana produksi juga rawan tidak sesuai dengan kemampuan keuangan usaha. Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat menghambat perkembangan usaha.

Mengambil Keputusan Berdasarkan Data

Ketua tim pengabdian, Arum Febriyanti Ciptaningtias, menjelaskan bahwa pendampingan ini diarahkan agar pelaku usaha terbiasa mengambil keputusan berdasarkan data. “Kami ingin pelaku usaha mengambil keputusan berdasarkan data, bukan perkiraan,” ujarnya.

Menurut Arum, anggaran dan dashboard yang sederhana dapat membantu pengrajin melihat arus kas dan laba usahanya sendiri. Dengan informasi tersebut, mereka dapat menentukan jumlah produksi dan pembelian bahan baku secara lebih tepat.

Pendekatan berbasis data ini penting bagi usaha kecil yang modalnya terbatas. Setiap keputusan pembelian dan produksi berpengaruh langsung pada kelangsungan usaha. Dengan data yang jelas, pengrajin dapat menghindari pemborosan, mengatur stok bahan baku dengan lebih baik, dan merencanakan pengembangan usaha secara lebih realistis.

Dari Sosialisasi hingga Praktik Menyusun Anggaran

Rangkaian kegiatan dimulai dengan sosialisasi tentang pentingnya anggaran dan literasi keuangan. Pada sesi ini, peserta diajak memahami mengapa perencanaan keuangan diperlukan dalam menjalankan usaha.

Setelah memahami konsep dasarnya, peserta langsung berlatih menyusun anggaran. Praktik ini membantu mereka menerapkan materi yang telah disampaikan pada kondisi usaha masing-masing. Pembelajaran melalui praktik juga membuat materi lebih mudah dipahami dan diingat.

Kemampuan menyusun anggaran merupakan bekal penting bagi pelaku usaha. Anggaran menjadi panduan dalam mengatur pemasukan dan pengeluaran, sekaligus alat untuk mengevaluasi apakah usaha berjalan sesuai rencana.

Dashboard Keuangan Digital Berbasis Google Spreadsheet

Selanjutnya, peserta diperkenalkan dengan dashboard keuangan digital berbasis Google Spreadsheet. Dashboard ini dirancang oleh tim dosen agar sederhana dan mudah digunakan oleh para pengrajin.

Melalui dashboard tersebut, pelaku usaha dapat mencatat transaksi dan memantau laba rugi, arus kas, serta margin keuntungan. Seluruh informasi ditampilkan dalam bentuk grafik, sehingga kondisi keuangan usaha lebih mudah dibaca dan dipahami.

Dengan alat ini, pengrajin dapat melihat kondisi usahanya berdasarkan data, tidak lagi berdasarkan perkiraan. Pemanfaatan Google Spreadsheet juga relatif mudah diakses, sehingga dapat menjadi langkah awal yang tepat bagi pelaku UMKM untuk beralih dari pencatatan manual ke pencatatan digital.

Literasi digital seperti ini semakin dibutuhkan di tengah perkembangan teknologi. Pelaku UMKM yang mampu memanfaatkan perangkat digital untuk mengelola usaha akan lebih siap menghadapi persaingan dan perubahan pasar.

Bantuan Canting Cap untuk Klaster

Selain memberikan pelatihan, tim dosen Polines juga menyerahkan satu buah canting cap motif kepada Klaster Batik Kota Semarang. Bantuan ini diharapkan dapat mendukung kelancaran produksi sekaligus meningkatkan kualitas batik ecoprint yang dihasilkan.

Bantuan peralatan produksi ini melengkapi pendampingan di bidang keuangan. Dengan pengelolaan keuangan yang lebih tertib dan dukungan alat produksi, para pengrajin memiliki modal yang lebih baik untuk mengembangkan usaha mereka.

Peserta Mulai Memahami Arah Usaha

Manfaat pendampingan ini dirasakan langsung oleh peserta. Mereka mengaku sebelumnya hanya mencatat keuangan seadanya, sehingga tidak mengetahui secara pasti berapa keuntungan yang diperoleh.

Setelah mengikuti pelatihan, peserta belajar menghitung biaya produksi dan menyusun anggaran. “Setelah pelatihan, kami belajar menghitung biaya produksi dan membuat anggaran, jadi lebih paham arah usaha,” ungkap peserta.

Kemampuan menghitung biaya produksi menjadi dasar penting dalam menentukan harga jual. Dengan mengetahui biaya secara rinci, pengrajin dapat menetapkan harga yang wajar dan memastikan setiap produk yang dijual benar-benar memberikan keuntungan.

Pendampingan Berlanjut ke Penguatan Branding

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Polines untuk menghadirkan hasil keilmuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Melalui pengabdian kepada masyarakat, ilmu akuntansi manajerial yang dikembangkan di kampus dapat diterapkan langsung untuk membantu pelaku usaha di lapangan.

Ke depan, tim berencana melanjutkan pendampingan, salah satunya melalui penguatan branding. Langkah ini penting agar batik ecoprint Semarang semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Dengan pengelolaan keuangan yang lebih baik dan strategi branding yang kuat, UMKM batik ecoprint Semarang diharapkan dapat tumbuh lebih mandiri dan berdaya saing. Pendampingan ini juga menjadi contoh kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku usaha dalam memperkuat ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.