Komunitas dan Media Informasi InfoTembalang
Pendidikan

Mahasiswa KKN Undip Memberdayakan Pokdarwis dalam Membangun Pariwisata Berkelanjutan

Diterbitkan pada 22 Aug 2026

← Beranda
Mahasiswa KKN Undip Memberdayakan Pokdarwis dalam Membangun Pariwisata Berkelanjutan

Batang, 4 Agustus 2026- Mahasiswa KKN Undip (Universitas Diponegoro) Fisip (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) memperkenalkan Pokdarwis. Pokdarwis merupakan kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan kepariwisataan di wilayahnya. Keberadaan kelompok ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, bersih, tertib, serta menarik bagi wisatawan. Tidak sekadar menjadi pelaksana kegiatan wisata, Pokdarwis juga berperan dalam membangun kesadaran masyarakat bahwa potensi lokal dapat dikelola menjadi sumber ekonomi sekaligus tetap dilestarikan. "Pokdarwis memiliki berbagai aktivitas yang berdasarkan pada SAPTA PESONA yang memiliki 7 unsur yaitu aman, nyaman, bersih, tertib, serta menarik wisatawan, " Ujarnya. 
Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang menjadi modal penting dalam pengembangan sektor pariwisata. Namun, keberhasilan pariwisata tidak hanya ditentukan oleh keindahan destinasi, tetapi juga oleh keterlibatan masyarakat dalam menjaga, mengelola, dan mengembangkan potensi daerahnya. Di tengah upaya tersebut, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) hadir sebagai salah satu penggerak masyarakat dalam menciptakan pariwisata yang berbasis pada partisipasi dan keberlanjutan.

Di tingkat desa, aktivitas Pokdarwis dapat terlihat melalui berbagai kegiatan, mulai dari pengelolaan destinasi wisata, pengembangan produk ekonomi kreatif, promosi potensi desa, hingga pelestarian budaya dan lingkungan. Keterlibatan masyarakat tersebut menjadi penting karena masyarakat setempat merupakan pihak yang paling dekat dengan sumber daya wisata. Dengan demikian, pengembangan pariwisata tidak hanya berorientasi pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga pada manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.

Masyarakat Menjadi Aktor Utama

Keberadaan Pokdarwis menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pengembangan pariwisata. Warga tidak hanya menjadi penonton dari perkembangan destinasi, tetapi terlibat langsung dalam proses perencanaan, pengelolaan, promosi, hingga evaluasi kegiatan wisata. Partisipasi tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan, seperti gotong royong membersihkan kawasan wisata, melakukan penataan lingkungan, menjaga fasilitas, menyambut wisatawan, hingga menyelenggarakan kegiatan budaya. Keterlibatan masyarakat secara langsung menjadi modal sosial yang penting untuk membangun rasa memiliki terhadap destinasi wisata. Semakin besar keterlibatan masyarakat, semakin besar pula peluang terciptanya pariwisata yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik lokal. Model tersebut sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pengelolaan yang sepenuhnya dilakukan oleh pihak luar.

Membangun Pariwisata yang Inklusif

Pengembangan Pokdarwis juga perlu memastikan bahwa manfaat pariwisata dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Kelompok perempuan, pemuda, pelaku UMKM, masyarakat lokal, hingga kelompok masyarakat yang selama ini memiliki akses terbatas terhadap kegiatan ekonomi perlu memperoleh ruang untuk berpartisipasi.

Konsep pariwisata inklusif tersebut sejalan dengan semangat SDGs yang menempatkan pembangunan sebagai proses yang tidak meninggalkan siapa pun. Keberhasilan destinasi tidak hanya diukur dari banyaknya wisatawan, tetapi juga dari seberapa besar masyarakat lokal memperoleh manfaat dari aktivitas tersebut.

Dorong Ekonomi Masyarakat

Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat memiliki hubungan erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Aktivitas wisata dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan meningkatkan perputaran ekonomi di tingkat lokal.
Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga memperoleh peluang untuk memasarkan produk mereka kepada wisatawan. Produk makanan khas, kerajinan, hasil pertanian, hingga berbagai produk ekonomi kreatif dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi pariwisata.
Kondisi tersebut sekaligus mendukung SDGs 1 tentang Tanpa Kemiskinan. Semakin banyak masyarakat yang memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas wisata, semakin besar pula peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

Kebersihan dan Kelestarian Lingkungan

Di tengah meningkatnya aktivitas wisata, persoalan lingkungan menjadi perhatian tersendiri. Sampah, kerusakan kawasan, penggunaan sumber daya alam yang berlebihan, serta rendahnya kesadaran wisatawan dapat mengancam keberlanjutan destinasi.
Karena itu, Pokdarwis memiliki peran dalam mengajak masyarakat dan wisatawan menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan. Kegiatan seperti kerja bakti, penanaman pohon, pengelolaan sampah, dan edukasi kepada pengunjung menjadi bagian dari upaya menciptakan destinasi wisata yang berkelanjutan.
Upaya tersebut sejalan dengan SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDGs 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, serta SDGs 15 tentang Ekosistem Daratan. Pengembangan wisata harus dilakukan dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Budaya Lokal Tetap Dipertahankan

Selain lingkungan, keberadaan Pokdarwis turut memberikan ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan budaya lokal. Kesenian tradisional, kuliner khas, kerajinan, cerita rakyat, tradisi, dan berbagai kearifan lokal dapat dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata.
Pelestarian tersebut sejalan dengan SDGs 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, terutama dalam menjaga identitas dan warisan budaya masyarakat. Pariwisata tidak hanya menjadi aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan budaya lokal kepada wisatawan dan generasi muda. 

Bukan Sekadar Destinasi, tetapi Masa Depan Desa

Bagi masyarakat, pariwisata bukan hanya tentang menghadirkan tempat yang menarik untuk dikunjungi. Di balik sebuah destinasi terdapat harapan untuk meningkatkan kesejahteraan, membuka lapangan pekerjaan, mempertahankan budaya, dan menjaga lingkungan.
Karena itu, keberadaan Pokdarwis menjadi penting dalam memastikan bahwa perkembangan pariwisata tetap berpijak pada kepentingan masyarakat lokal. Destinasi yang berkembang tanpa memberikan manfaat kepada masyarakat berpotensi kehilangan dukungan sosial dan menghadapi persoalan keberlanjutan.
Sebaliknya, ketika masyarakat memperoleh manfaat sekaligus memiliki rasa tanggung jawab terhadap destinasi, pariwisata dapat tumbuh menjadi kekuatan pembangunan desa. Dari sinilah Pokdarwis memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara potensi lokal, kepentingan masyarakat, dan agenda pembangunan berkelanjutan.

Tantangan Pengembangan Pokdarwis
Meski memiliki potensi besar, pengembangan Pokdarwis masih menghadapi sejumlah tantangan. Keterbatasan kemampuan sumber daya manusia, pengelolaan kelembagaan hukum, pemasaran digital, infrastruktur, pendanaan, serta koordinasi dengan pemerintah menjadi beberapa persoalan yang perlu mendapatkan perhatian.
Penguatan kapasitas Pokdarwis menjadi langkah penting agar kelompok masyarakat tersebut mampu mengelola destinasi secara profesional. Pelatihan pengelolaan wisata, digital marketing, pelayanan wisatawan, pengelolaan keuangan, pengembangan ekonomi kreatif, dan pelestarian lingkungan dapat membantu meningkatkan kemampuan masyarakat.
Pemerintah daerah juga memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan dan membuka akses terhadap program pengembangan pariwisata. Kolaborasi dengan pemerintah desa, pelaku usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat dapat memperkuat keberlanjutan destinasi. Oleh karena itulah, Shoffa memperkenalkan SADEWA sebagai saran yang dapat dilakukan oleh POKDARWIS
" Pokdarwis dapat melakukan SADEWA untuk pengembangan wisata sungai sigondang-sumilir.
Program SADEWA merupakan saran program yang dapat dilakukan pokdarwis, diantaranya sarana dan prasana yang bersih, pemasaran digital, pengembangan atraksi dari kebudayaan yang ada, pelatihan digital, penguatan kolaborasi dengan berbagai stakeholders mengenai potensi wisata, ", ujarnya. 

Dari Desa untuk SDGs

Pengembangan Pokdarwis menunjukkan bahwa pencapaian SDGs tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Masyarakat di tingkat desa juga memiliki ruang untuk berkontribusi melalui kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. Ketika sebuah destinasi mampu menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan masyarakat, melibatkan perempuan, menjaga lingkungan, dan melestarikan budaya, maka aktivitas tersebut telah memberikan kontribusi terhadap sejumlah tujuan SDGs sekaligus.
Pada akhirnya, Pokdarwis bukan sekadar kelompok yang bertugas menyambut wisatawan. Pokdarwis merupakan bagian dari gerakan masyarakat untuk mengelola potensi lokal secara mandiri dan berkelanjutan. Dari desa, pariwisata dapat tumbuh bukan hanya sebagai sektor ekonomi, tetapi sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
Dengan semangat Sapta Pesona dan SADEWA, Pokdarwis dapat menjadi ujung tombak dalam mewujudkan pariwisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan budaya untuk generasi mendatang.