BATANG — Mahasiswa KKN Undip Reguler Tim II Desa Gringgingsari melaksanakan program multidisiplin bertajuk “Pemberdayaan Pengelolaan Sampah melalui Implementasi Metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle) Mewujudkan Desa Bersih, Sehat, dan Berkelanjutan.” Program ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam membantu masyarakat meningkatkan kesadaran dan keterampilan dalam mengelola sampah rumah tangga. Pengelolaan dilakukan melalui pemilahan, pemanfaatan kembali, serta pengolahan sampah agar tidak seluruhnya berakhir sebagai limbah yang dibuang. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, serta SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Permasalahan sampah merupakan persoalan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat pada tingkat rumah tangga. Sampah yang tidak dipilah sejak dari sumbernya dapat menyulitkan proses pengelolaan dan menyebabkan berbagai jenis sampah tercampur. Padahal, sampah rumah tangga terdiri atas berbagai jenis yang memiliki karakteristik dan cara pengelolaan berbeda. Sampah anorganik seperti botol plastik, kemasan, dan barang berbahan plastik memiliki potensi untuk digunakan kembali maupun dikumpulkan melalui bank sampah. Sementara itu, sampah organik seperti sisa buah dan sayuran dapat dimanfaatkan melalui berbagai metode pengolahan sehingga jumlah sampah yang dibuang dapat dikurangi.
Melalui program ini, mahasiswa memperkenalkan prinsip 3R, yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle, sebagai pendekatan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Reduce dilakukan dengan mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menghasilkan sampah, terutama barang sekali pakai. Reuse dilakukan dengan menggunakan kembali barang yang masih memiliki fungsi, sedangkan Recycle dilakukan dengan mengolah kembali material yang sudah tidak digunakan menjadi sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Penerapan ketiga prinsip tersebut diharapkan dapat membangun kebiasaan baru dalam mengelola sampah mulai dari lingkungan rumah.

Salah satu kegiatan utama dalam program ini adalah edukasi bank sampah sebagai upaya menangani sampah anorganik. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan pemahaman mengenai pentingnya memilah sampah dari sumbernya serta mengumpulkan sampah anorganik yang masih memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Bank sampah diharapkan dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengelola sampah secara lebih teratur sekaligus mendorong masyarakat agar tidak langsung membuang barang yang masih dapat dimanfaatkan.
Sebagai bagian dari penerapan prinsip Reuse, mahasiswa memperkenalkan pemanfaatan galon bekas Le Minerale sebagai sarana bank sampah. Galon bekas yang sebelumnya hanya menjadi barang tidak terpakai dimanfaatkan kembali sebagai wadah untuk mendukung kegiatan pemilahan dan pengumpulan sampah. Pemanfaatan tersebut menjadi contoh sederhana bahwa penerapan 3R dapat dimulai dari barang yang tersedia di lingkungan sekitar tanpa harus menggunakan sarana yang rumit.
Sebanyak 14 unit sarana bank sampah disiapkan dalam program ini. Sarana tersebut direncanakan untuk didistribusikan kepada 11 RT dan 3 sekolah yang berada di Desa Gringgingsari. Pembagian tersebut diharapkan dapat memperluas penerapan pengelolaan sampah sehingga kegiatan tidak hanya terpusat pada satu lokasi. Dengan adanya sarana di masing-masing wilayah RT dan sekolah, masyarakat maupun warga sekolah dapat lebih mudah mengenal dan menerapkan kegiatan pemilahan sampah dalam lingkungan masing-masing.

Selain penyediaan sarana, program ini juga memperhatikan aspek keberlanjutan pengelolaan bank sampah. Setiap RT diarahkan untuk memiliki pengelola atau penanggung jawab bank sampah yang dapat mengoordinasikan kegiatan di wilayahnya. Penanggung jawab tersebut memiliki peran dalam mengatur pengumpulan dan pemilahan sampah anorganik dari masyarakat, sekaligus menjadi penghubung antara warga dengan pihak yang dapat menerima atau membeli sampah yang telah terkumpul.
Untuk mendukung pengelolaan lanjutan, penanggung jawab bank sampah di setiap RT diberikan buku saku bank sampah. Buku saku tersebut berfungsi sebagai panduan praktis dalam menjalankan kegiatan bank sampah sekaligus memuat informasi mengenai pihak pengepul yang dapat dihubungi. Dengan adanya informasi tersebut, pengelola bank sampah di setiap RT dapat menjadi koordinator yang menghubungkan masyarakat dengan pengepul yang tersedia. Sampah anorganik yang telah dikumpulkan dan dipilah kemudian dapat disalurkan melalui jalur yang lebih terarah.
Mahasiswa juga menyediakan leaflet pengelolaan bank sampah sebagai media informasi pendukung. Leaflet tersebut berisi informasi yang dibuat secara ringkas agar masyarakat lebih mudah memahami mekanisme pengelolaan bank sampah. Kehadiran media edukasi ini diharapkan dapat membantu masyarakat mengingat kembali informasi yang telah disampaikan dalam kegiatan sosialisasi serta memudahkan penerapan pengelolaan sampah dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak hanya berfokus pada sampah anorganik, program Multidisiplin 2 juga memberikan perhatian terhadap pengelolaan sampah organik melalui eco enzyme. Masyarakat diperkenalkan dengan pemanfaatan sisa kulit buah dan bahan organik rumah tangga sebagai bahan yang dapat diolah kembali. Pengolahan tersebut menjadi salah satu alternatif pemanfaatan sampah organik sehingga tidak seluruhnya langsung dibuang bersama sampah lainnya.
Dalam mendukung kegiatan tersebut, mahasiswa menyediakan pamflet SOP eco enzyme yang berisi panduan mengenai proses pengolahannya. Media ini diharapkan dapat membantu masyarakat memahami tahapan pembuatan eco enzyme secara lebih mudah dan dapat digunakan kembali sebagai referensi setelah kegiatan KKN selesai. Dengan adanya panduan tersebut, masyarakat memiliki bahan acuan untuk mencoba melakukan pengolahan sampah organik secara mandiri di lingkungan rumah masing-masing.

Koordinator Desa, Billadh Ozora Rawung, menyampaikan harapannya pada peresmian program kerja ini. “Kami berharap program ini tidak berhenti setelah KKN selesai. Dengan adanya pengelola di setiap RT, buku saku, serta sarana bank sampah, masyarakat diharapkan dapat melanjutkan pengelolaan sampah secara mandiri dan berkelanjutan,” ucapnya pada akhir sambutan. Menurutnya, keberlanjutan menjadi salah satu hal penting dalam pelaksanaan program karena perubahan dalam pengelolaan sampah membutuhkan kebiasaan dan keterlibatan masyarakat secara konsisten.
Para Ketua RT di Desa Gringgingsari turut menyambut baik program tersebut. “Kami mengapresiasi kegiatan mahasiswa KKN yang memberikan edukasi sekaligus sarana yang dapat digunakan masyarakat. Harapannya, bank sampah dapat terus berjalan di setiap RT dan membantu menciptakan lingkungan Desa Gringgingsari yang lebih bersih dan sehat,” ujar salah satu Ketua RT.
Program ini juga memiliki keterkaitan dengan pencapaian SDG 3, SDG 11, dan SDG 12. Pengelolaan sampah yang lebih baik dapat mendukung terciptanya lingkungan yang lebih sehat dan bersih sejalan dengan SDG 3. Penerapan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat juga mendukung terciptanya permukiman yang lebih berkelanjutan sesuai dengan SDG 11. Sementara itu, penerapan prinsip 3R secara langsung berkaitan dengan SDG 12 melalui upaya mengurangi sampah, menggunakan kembali barang, serta mengolah material yang masih dapat dimanfaatkan.
Melalui penerapan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle, masyarakat Desa Gringgingsari diharapkan dapat mulai membangun kebiasaan baru dalam mengelola sampah dari sumbernya. Kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, pengelola bank sampah, sekolah, dan pemerintah desa menjadi langkah penting dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Dengan adanya upaya bersama tersebut, Desa Gringgingsari diharapkan dapat terus berkembang menjadi lingkungan yang lebih bersih, sehat, tertata, dan berkelanjutan.
Billadh Ozora Rawung
KKN - R Universitas Diponegoro TIM II Desa
Gringgingsari
DPL: Muhammad Luthfie Fadhilah, S.P., M.Si.