Komunitas dan Media Informasi InfoTembalang
Pendidikan

UNDIP Kembangkan Teknologi Pengering Rumput Laut di Brebes, Waktu Pengeringan Jadi 8 Jam

Diterbitkan pada 30 Aug 2026

← Beranda
UNDIP Kembangkan Teknologi Pengering Rumput Laut di Brebes, Waktu Pengeringan Jadi 8 Jam

BREBES – Universitas Diponegoro (UNDIP) bersama Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) memperkenalkan teknologi baru untuk meningkatkan kualitas pengolahan rumput laut di Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Teknologi tersebut berupa sistem pengeringan rumput laut di dalam ruangan tertutup dengan memanfaatkan sumber energi hibrida, yakni tenaga surya dan biomassa.

Inovasi ini dirancang untuk mengatasi sejumlah kendala yang selama ini dihadapi pelaku usaha dalam proses pengeringan rumput laut. Selain membuat proses pengeringan lebih terkontrol, teknologi tersebut juga ditujukan untuk menghasilkan rumput laut kering dengan kualitas yang lebih bersih dan seragam.

Pengembangan teknologi tersebut dilakukan melalui Program Hilirisasi Riset Prioritas dan Strategis–SINERGI, khususnya skema Hilirisasi Riset Berbasis Transfer Teknologi Terintegrasi.

Program yang dijalankan oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tersebut mendorong hasil penelitian perguruan tinggi agar dapat diterapkan secara langsung untuk menyelesaikan persoalan di masyarakat.

Rumput Laut Tak Lagi Dijemur di Pinggir Jalan

Desa Randusanga Kulon dipilih sebagai salah satu lokasi penerapan teknologi karena memiliki potensi budidaya rumput laut yang cukup besar.

Sebelum adanya fasilitas pengeringan tertutup, sebagian masyarakat masih mengeringkan rumput laut hasil panen di area terbuka, termasuk di pinggir jalan tambak maupun jalan desa.

Metode tersebut memang sederhana, tetapi memiliki sejumlah kelemahan.

Proses pengeringan sangat bergantung pada kondisi cuaca. Ketika hujan turun atau sinar matahari tidak maksimal, proses pengeringan dapat terganggu.

Selain itu, penjemuran di ruang terbuka membuat rumput laut lebih mudah terpapar debu, kotoran, hewan, serta berbagai sumber kontaminasi lain yang berasal dari lingkungan sekitar.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi kebersihan dan kualitas produk rumput laut kering yang dihasilkan.

Melalui teknologi yang dikembangkan UNDIP dan Unwahas, proses pengeringan kini dipindahkan ke bangunan tertutup.

Sistem tersebut memungkinkan proses pengeringan berlangsung dalam kondisi yang lebih terkendali sekaligus mengurangi risiko kontaminasi dari lingkungan luar.

Gunakan Energi Surya dan Biomassa

Salah satu keunggulan teknologi pengering rumput laut tersebut terletak pada penggunaan sumber energi hibrida.

Energi surya digunakan sebagai sumber panas utama, sedangkan biomassa berfungsi sebagai sumber panas pendukung.

Penggabungan dua sumber energi tersebut membuat proses pengeringan tidak sepenuhnya bergantung pada intensitas matahari.

Ketika sinar matahari berkurang atau kondisi cuaca tidak mendukung, sumber panas dari biomassa dapat membantu mempertahankan proses pengeringan.

Dengan demikian, aktivitas produksi diharapkan dapat berlangsung lebih stabil.

Teknologi tersebut juga dilengkapi sistem sirkulasi udara. Blower dan exhaust fan digunakan untuk membantu mengatur serta meratakan aliran udara panas di dalam ruang pengering.

Sementara itu, rumput laut ditempatkan di atas rak khusus sehingga tidak bersentuhan langsung dengan tanah ataupun lantai bangunan.

Desain tersebut membuat proses pengeringan menjadi lebih higienis dibandingkan metode penjemuran terbuka.

Waktu Pengeringan Dipangkas Lebih dari Separuh

Ketua Tim SINERGI UNDIP, Prof. Dr. Moh. Djaeni, S.T., M.T., menjelaskan bahwa teknologi tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kebersihan produk.

Sistem pengeringan tertutup juga dirancang untuk mempercepat waktu pengeringan rumput laut.

Sebelumnya, proses pengeringan membutuhkan waktu sekitar 18 jam. Dengan penerapan teknologi baru, waktu tersebut dapat dipangkas menjadi sekitar 8 jam.

Pengurangan waktu pengeringan menjadi salah satu keuntungan penting bagi pelaku usaha karena dapat meningkatkan efisiensi proses produksi.

Selain lebih cepat, kondisi pengeringan yang lebih terkendali memungkinkan kualitas rumput laut kering menjadi lebih konsisten.

Produk juga terlindungi dari hujan, debu, hewan, maupun berbagai sumber kontaminasi yang mungkin muncul selama proses penjemuran di ruang terbuka.

Dukungan energi biomassa turut memberikan alternatif ketika panas matahari tidak mencukupi.

Dengan kombinasi tersebut, pelaku usaha memiliki peluang untuk menjalankan proses produksi secara lebih berkelanjutan.

UNDIP Gandeng Unwahas dan Mitra Industri

Penerapan teknologi ini tidak dilakukan UNDIP seorang diri.

UNDIP menggandeng Unwahas dan PT Mutiara Global Industry dalam pengembangan serta penerapan teknologi pengering rumput laut.

Kolaborasi tersebut menggunakan mekanisme co-funding, co-contribution, dan co-creation.

Kerja sama itu diarahkan untuk memastikan hasil riset perguruan tinggi dapat menjawab kebutuhan nyata pelaku usaha.

Dengan model kolaborasi tersebut, teknologi tidak berhenti sebagai penelitian atau purwarupa di lingkungan kampus.

Sebaliknya, inovasi dikembangkan agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan memiliki peluang untuk terus dikembangkan sesuai kebutuhan di lapangan.

Program SINERGI menjadi jembatan antara dunia akademik, industri, dan masyarakat dalam mendorong pemanfaatan teknologi secara langsung.

Mahasiswa Ikut Terlibat

Selain dosen dan mitra industri, mahasiswa juga terlibat dalam proses penerapan teknologi tersebut.

Keterlibatan mahasiswa berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari program sarjana, magister, hingga doktor Teknik Kimia.

Mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk terlibat langsung dalam persoalan yang dihadapi masyarakat.

Mereka dapat mengamati proses pengeringan, membantu penerapan teknologi, sekaligus berinteraksi dengan pelaku usaha yang menjadi mitra.

Pengalaman tersebut memberikan pembelajaran yang berbeda dibandingkan kegiatan akademik di dalam ruang kelas.

Mahasiswa dapat melihat bagaimana hasil penelitian dan ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata.

Di sisi lain, pelaku usaha memperoleh pendampingan agar dapat memahami cara mengoperasikan dan memanfaatkan fasilitas pengeringan sesuai dengan kebutuhan produksi.

Libatkan Banyak Bidang Keilmuan

Tim SINERGI UNDIP dipimpin Prof. Dr. Moh. Djaeni, S.T., M.T.

Tim tersebut melibatkan sejumlah akademisi dari bidang Teknik Kimia dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UNDIP.

Sementara dari Unwahas, tim terdiri atas akademisi dengan latar belakang Teknik Kimia dan Teknik Mesin.

Keterlibatan berbagai bidang keilmuan menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi karena sistem pengeringan tidak hanya membutuhkan pemahaman mengenai proses pengolahan bahan, tetapi juga aspek mesin, energi, hingga karakteristik rumput laut.

Kolaborasi lintas bidang tersebut diharapkan dapat menghasilkan teknologi yang lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pelaku usaha di daerah.

Tingkatkan Kualitas dan Nilai Jual

Penerapan teknologi pengeringan tertutup diharapkan memberikan dampak lebih jauh terhadap usaha rumput laut masyarakat.

Produk yang lebih bersih, memiliki tingkat kekeringan lebih merata, serta kualitas yang lebih konsisten berpotensi meningkatkan daya saing rumput laut kering.

Kualitas yang lebih baik juga membuka peluang peningkatan nilai jual produk.

Bagi pelaku usaha, proses pascapanen menjadi bagian penting karena kualitas hasil pengeringan akan memengaruhi produk yang akhirnya dipasarkan.

Karena itu, inovasi pada tahap pengeringan menjadi salah satu upaya untuk memperkuat rantai pengolahan rumput laut.

Teknologi tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju proses produksi yang lebih efisien dan memiliki standar kualitas lebih baik.

Teknologi untuk Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pesisir

Penerapan teknologi pengering rumput laut di Randusanga Kulon juga memiliki dimensi ekonomi.

Rumput laut merupakan salah satu potensi yang dapat dikembangkan oleh masyarakat pesisir. Namun, pengembangan komoditas tersebut tidak hanya bergantung pada produksi atau budidaya.

Pengolahan setelah panen juga memiliki peran penting dalam menentukan nilai produk.

Dengan proses pengeringan yang lebih cepat, bersih, dan konsisten, pelaku usaha diharapkan memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus memperkuat daya saing.

Pada akhirnya, peningkatan kualitas produk dapat memberikan dampak terhadap keberlanjutan usaha masyarakat.

Program SINERGI menjadi salah satu contoh bagaimana perguruan tinggi dapat berperan dalam mendorong pengembangan ekonomi masyarakat melalui penerapan hasil riset.

Jadi Contoh Hilirisasi Riset Perguruan Tinggi

Teknologi pengering rumput laut yang diterapkan di Brebes menunjukkan bahwa hasil penelitian perguruan tinggi dapat diarahkan untuk menyelesaikan persoalan konkret di lapangan.

UNDIP dan Unwahas tidak hanya mengembangkan teknologi, tetapi juga melibatkan masyarakat dan industri dalam proses penerapannya.

Pendekatan tersebut membuat inovasi yang dihasilkan lebih dekat dengan kebutuhan pengguna.

Bagi masyarakat, teknologi memberikan alternatif untuk mengatasi kendala pengeringan secara tradisional.

Bagi perguruan tinggi, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk menguji sekaligus mengembangkan hasil riset dalam kondisi nyata.

Sementara bagi mahasiswa, keterlibatan langsung memberikan pengalaman mengenai bagaimana teknologi dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Harapan untuk Pelaku Usaha Rumput Laut

Penerapan sistem pengeringan berbasis energi surya dan biomassa di Desa Randusanga Kulon diharapkan menjadi awal dari penguatan pengolahan pascapanen rumput laut di wilayah tersebut.

Tidak lagi bergantung sepenuhnya pada penjemuran di pinggir jalan atau ruang terbuka, masyarakat kini memiliki alternatif berupa fasilitas pengeringan tertutup.

Selain mempercepat proses dari sekitar 18 jam menjadi 8 jam, sistem tersebut memberikan lingkungan pengeringan yang lebih bersih dan terkendali.

Ke depan, teknologi serupa diharapkan dapat terus dikembangkan sehingga manfaatnya semakin luas bagi pelaku usaha rumput laut.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat menjadi faktor penting agar inovasi tidak berhenti pada tahap pengembangan teknologi.

Melalui sinergi tersebut, hasil riset dapat benar-benar hadir di tengah masyarakat dan memberikan manfaat langsung.

Bagi masyarakat pesisir Randusanga Kulon, perubahan ini berarti satu hal sederhana tetapi penting: rumput laut hasil budidaya kini tidak harus lagi dijemur di pinggir jalan.

Dengan dukungan teknologi, proses pengeringan dapat dilakukan secara lebih cepat, bersih, dan terkendali, sekaligus membuka peluang bagi peningkatan kualitas serta nilai ekonomi rumput laut kering dari Brebes.

Sumber: Tidak di Pinggir Jalan Lagi, UNDIP BerSINERGI Meningkatkan Kualitas Rumput Laut Kering